Hampir satu abad lalu, Mukibat, seorang petani di Kediri menyambung dua jenis ubi kayu untuk mengelabui pencuri di ladangnya. Ia tak pernah membayangkan temuannya akan dibicarakan di meja kebijakan energi nasional Republik Indonesia pada 2026.

Disebutkan bahwa harga singkong di sejumlah daerah sempat berada di bawah Rp1.000 per kilogram, sementara pemerintah menetapkan harga minimal sekitar Rp1.350 per kilogram guna menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan industri.

Kondisi pasar yang masih fluktuatif ini menjadi salah satu tantangan yang perlu diselesaikan bila pemerintah ingin menjadikan singkong, termasuk varietas mukibat, sebagai tulang punggung program bioetanol jangka panjang.

Warisan yang Terus Hidup Lintas Zaman

Sejarah Tentang Singkong Mukibat, Dari Siasat Petani Kediri Melawan Pencuri

Perjalanan panjang singkong Mukibat menunjukkan bagaimana sebuah inovasi sederhana dari seorang petani kampung bisa terus relevan lintas zaman hingga saat ini.

Muncul dari solusi darurat menghadapi pencurian di masa kolonial, menjadi objek riset ilmiah Universitas Brawijaya pada dekade 1970-an, hingga kini menjelma sebagai salah satu tumpuan strategi kemandirian energi nasional pada 2026, alias hampir satu abad setelah Mukibat lahir.

Kisah ini juga menjadi pengingat penting soal perlunya melindungi dan mendokumentasikan kearifan pertanian lokal Indonesia. Dalam sebuah kolom yang dimuat Tempo.co, disebutkan bahwa penguatan ketahanan pangan melalui pemuliaan jenis flora dan fauna perlu terus didorong sembari menjaga benih lokal dan keanekaragaman hayati sebagai harta paling berharga yang dimiliki Indonesia.

“Nama Mukibat sendiri pada akhirnya abadi bukan sebagai nama sebuah varietas tanaman, melainkan sebagai nama sebuah teknik, jejak seorang petani dari Kediri, yang dalam keterbatasannya melawan pencurian di ladang sendiri, justru menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan, yaitu sebuah warisan yang kini dibicarakan hingga ke meja kebijakan energi nasional Republik Indonesia,” Tim Redaksi BacainD.com.

Daftar Sumber

  1. Universitas Abulyatama — Mukibat, Sang Penemu Singkong Mukibatabulyatama.ac.id
  2. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan — Wahyu Hadiahi Pj. Bupati Kuningan Singkong Raksasa seberat 50 Kg dari Petmildiskatan.kuningankab.go.id
  3. Tempo.co — Mudjair, Mukibat, dan Nasib Pemuliaan Tanamantempo.co
  4. Jurnal Cocos, Universitas Sam Ratulangi — Produksi Bioetanol dari Singkong (Manihot utilissima)unsrat.ac.id
  5. ESDM Prioritaskan Tebu, Singkong Mukibat, dan Jagung sebagai Bahan Baku Bioetanol (20 Juli 2026) — kompas.com
  6. Singkong Menjadi Bioetanolkompasiana.com
  7. Media Mahasiswa Indonesia — Dari Singkong ke Bahan Bakar: Yuk Kenali Bioetanol!mahasiswaindonesia.id
  8. 10 Negara Produsen Singkong Terbesar di Duniadataboks.katadata.co.id
  9. Diskominfo Provinsi Jawa Timur — Indonesia Negara Penghasil Singkong Terbanyak Keempat Duniakominfo.jatimprov.go.id
  10. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah — Produksi Singkong Berlimpah, Pemprov Jateng dan Kemendag RI Jajaki Pasar Inggris dan Uni Eropajatengprov.go.id
  11. Ekspor Naik, Produksi Singkong Bertambahkemenperin.go.id
  12. BSIP Tanah dan Pupuk, Kementerian Pertanian — Strategi Peningkatan Produktivitas dan Kebijakan Dukungan Pupuk Bersubsidi untuk Petani Singkongpertanian.go.id

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

Thanisa Aulia

Thanisa Aulia adalah seorang jurnalis profesional di BacainD.com yang berpengalaman dalam meliput berbagai isu aktual, mulai dari pemerintahan, hukum, hingga sosial kemasyarakatan. Mengedepankan akurasi, keberimbangan, dan kedalaman informasi dalam setiap tulisan, ia berkomitmen menghadirkan berita yang kredibel, tajam, dan dapat dipercaya oleh publik.