Hampir satu abad lalu, Mukibat, seorang petani di Kediri menyambung dua jenis ubi kayu untuk mengelabui pencuri di ladangnya. Ia tak pernah membayangkan temuannya akan dibicarakan di meja kebijakan energi nasional Republik Indonesia pada 2026.

Skala Potensi: Singkong Indonesia di Kancah Dunia

Sejarah Tentang Singkong Mukibat, Dari Siasat Petani Kediri Melawan Pencuri

Untuk memahami skala peluang di balik kebijakan ini, penting melihat posisi Indonesia sebagai produsen singkong global.

Berdasarkan data yang dihimpun Databoks Katadata dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Indonesia menempati posisi kelima sebagai produsen singkong terbesar di dunia, dengan sentra produksi tersebar di 13 provinsi, di mana lima provinsi penghasil terbesar adalah Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta.

Sementara itu, data yang dihimpun Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementerian Pertanian mencatat bahwa Indonesia memproduksi hampir 15 juta ton singkong pada 2022, menjadikannya penyangga pangan nasional yang strategis.

Namun sumber yang sama juga mengungkap sisi lain yang kontradiktif: Indonesia justru merupakan negara importir tepung tapioka terbesar kedua di dunia, akibat kebutuhan hilirisasi industri pangan yang terus meningkat.

Dari sisi perdagangan, laporan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada masanya mencatat tren positif permintaan ekspor singkong, dengan Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) memproyeksikan produksi singkong nasional bisa mencapai 22 juta ton, naik dari 20 juta ton pada tahun sebelumnya.

Kemenperin juga mencatat bahwa singkong Indonesia diekspor ke berbagai negara produsen bioetanol seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, hal tersebut menjadi bukti bahwa permintaan global terhadap singkong sebagai bahan baku energi memang telah lama menjadi tren dunia, jauh sebelum Indonesia sendiri serius menggarap potensi ini di dalam negeri.

Tantangan yang Tetap Perlu Diwaspadai

Meski peluangnya besar, sejumlah pihak mengingatkan agar pemanfaatan lahan untuk bahan baku energi tetap dikelola secara cermat.

Artikel yang dimuat salah satu Media Mahasiswa Indonesia menegaskan bahwa jika tidak dikelola dengan bijak, penggunaan bahan pangan untuk energi dapat memengaruhi ketersediaan dan harga pasar, sehingga solusi yang disarankan adalah dengan cara mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian atau lahan marginal yang tidak digunakan untuk produksi pangan utama.

Pendekatan pemerintah dengan memilih singkong mukibat sebagai bahan baku bioetanol tampak selaras dengan semangat ini.

Dengan memanfaatkan varietas Singkong Mukibat yang sejak awal memang tidak diminati untuk konsumsi pangan langsung, potensi benturan kepentingan antara sektor energi dan sektor pangan bisa diminimalkan.

Dari sisi fluktuasi harga, laporan bisnis dari industri lokal dikutip pada Mei 2026 turut menggambarkan dinamika pasar singkong domestik saat ini.

Klik halaman 6 untuk membaca >>>>>

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

Thanisa Aulia

Thanisa Aulia adalah seorang jurnalis profesional di BacainD.com yang berpengalaman dalam meliput berbagai isu aktual, mulai dari pemerintahan, hukum, hingga sosial kemasyarakatan. Mengedepankan akurasi, keberimbangan, dan kedalaman informasi dalam setiap tulisan, ia berkomitmen menghadirkan berita yang kredibel, tajam, dan dapat dipercaya oleh publik.