Hampir satu abad lalu, Mukibat, seorang petani di Kediri menyambung dua jenis ubi kayu untuk mengelabui pencuri di ladangnya. Ia tak pernah membayangkan temuannya akan dibicarakan di meja kebijakan energi nasional Republik Indonesia pada 2026.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, muncul gagasan menyambung ubi kayu biasa dengan batang atas ubi kayu karet, jenis yang oleh masyarakat setempat dijuluki dengan sebutan “telo gendruwo” karena umbinya pahit dan beracun jika langsung dikonsumsi.

Dari mana ide penyambungan ini muncul? Berdasarkan cerita turun-temurun yang direkam oleh beberapa sumber, Mukibat mendapatkan ide menyambung ubi karet ke ubi kayu biasa, setelah mengikuti kursus yang diberikan Petugas Penyuluh Pertanian di masa itu, di mana setiap peserta ditugasi secara individual untuk menyambung tanaman.

Dari tugas kursus itulah, sebuah teknik pertanian rakyat lahir dan saat ini dikenal luas dengan namanya sendiri, yaitu Singkong Mukibat.

Bukan Varietas Baru, Melainkan Terobosan Teknik Budidaya

Banyak orang diduga keliru mengira singkong Mukibat adalah varietas hasil persilangan genetik. Faktanya, ini adalah kesalahpahaman yang sudah lama diluruskan oleh kalangan peneliti.

Mengutip dari Kartika Noerwijati, seorang peneliti ubi kayu di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi), Malang yang menegaskan bahwa, Singkong Mukibat itu hasil temuan teknik untuk mendongkrak panen, bukan temuan varietas baru hasil silangan.

“Jadi sebetulnya selama ini salah kaprah. Mukibat menemukan teknik mendongkrak panen, bukan menemukan varietas baru hasil silangan.” Kartika Noerwijati dikutip dari salah satu Majalah Pertanian.

Secara teknis, yang dilakukan Mukibat adalah grafting atau okulasi yaitu proses penyambungan dua jenis tanaman berbeda menjadi satu individu.

Dalam artikelnya Universitas Abulyatama menjelaskan definisinya secara ringkas, bahwa ubi kayu Mukibat, pada dasarnya adalah ubi kayu hasil sambungan dari batang bawah ubi kayu (Manihot esculenta) dengan ubi kayu karet (Manihot glaziovii).

Logika di balik teknik ini cukup elegan. Batang bawah berasal dari singkong biasa yang umbinya bisa dikonsumsi manusia, sementara batang atas berasal dari ubi kayu karet yang kanopi daunnya jauh lebih rimbun dan mampu berfotosintesis lebih maksimal dibanding singkong biasa.

Hasil fotosintesis yang berlimpah dari kanopi besar itu kemudian mengalir turun dan disimpan sebagai cadangan pati di umbi bagian bawah, yang notabene adalah umbi singkong biasa yang layak dimakan.

Menariknya, teknik ini juga terus berevolusi di tangan petani lain.

Universitas Abulyatama mencatat bahwa selama 20 tahun pertama sejak penemuan teknologi Mukibat, terdapat variasi dan modifikasi yang dilakukan petani lain, di antaranya sistem “Kurur”, di mana stek singkong biasa dan singkong karet ditanam terpisah, kemudian setelah berumur 45 hari, tunas muda ubi karet disambungkan ke tunas muda ubi kayu biasa.

Bahkan ada petani bernama Satrawi yang pernah melakukan penyambungan satu batang atas ubi karet pada tiga sampai tujuh batang bawah dari varietas bereda dalam teknik sambungan tersebut.

Klik halaman 3 untuk membaca >>>>>

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

Thanisa Aulia

Thanisa Aulia adalah seorang jurnalis profesional di BacainD.com yang berpengalaman dalam meliput berbagai isu aktual, mulai dari pemerintahan, hukum, hingga sosial kemasyarakatan. Mengedepankan akurasi, keberimbangan, dan kedalaman informasi dalam setiap tulisan, ia berkomitmen menghadirkan berita yang kredibel, tajam, dan dapat dipercaya oleh publik.