Hal itu ia lakukan, lantaran menimbang bahwa pertumbuhan kanopi ubi karet terlalu besar dan berat untuk ditopang satu batang bawah ubi kayu biasa.
Hasil Panen yang Melonjak Berkali-kali Lipat
Dampak dari teknik sambung ini terhadap produktivitas panen singkong tergolong dramatis untuk ukuran pertanian tradisional. Dalam sebuah artikel yang terbit di media bahwa panen singkong konsumsi yang lazimnya hanya 3–5 kilogram per tanaman, tapi dengan menggunakan teknik Mukibat ini, bisa melonjak menjadi 3 hingga 6 kali lipat dari biasanya.
Bahkan disebutkan bahwa sekitar 30-40 tahun yang lalu, ada peneliti pertanian asal Belanda bernama Gerard H. de Bruyn, sempat terpesona dengan teknik mukibat karena penemuan pekebun asal Kediri itu mampu mendongkrak produksi singkong hingga 15–20 kilogram per tanaman, bahkan sebagian versi menyebutkan Singkong Mukibat bisa memproduksi sekitar 100 – 150 kilogram pertanaman.
Klaim soal produktivitas ini bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut. Beberapa media berita dari tingkat lokal hingga nasional, mencatat bahwa sistem singkong Mukibat telah diteliti oleh Universitas Brawijaya pada tahun 1974 silam, dan hasilnya menunjukkan produktivitas ubi kayu Mukibat mampu ditingkatkan hingga lebih dari 70 ton per hektare.
Satu tanaman singkong Mukibat pernah tercatat mampu berproduksi lebih dari 100 kilogram dengan usia tanam lebih dari satu setengah tahun.
Mengutip dari sumber media lokal, teknik warisan petani Ngadiluwih ini bahkan sempat menarik perhatian dua lembaga penelitian pertanian internasional, yaitu IITA (International Institute of Tropical Agriculture) di Nigeria dan CIAT (Centro Internacional de Agricultura Tropical) di Cali, Kolombia.
Fenomena “singkong raksasa” yang belakangan kerap viral di media sosial dan media daerah pun umumnya merupakan hasil dari sistem sambungan Mukibat ini.
Berdasarkan penulusuran informasi dari tim redaksi BacainD.com, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan pernah memberitakan sebuah singkong seberat 50 kilogram yang dihadiahkan kepada Penjabat (Pj) Bupati Kuningan pada 2024 silam.

Singkong besar tersebut diklaim ditanam oleh Wiwi Wariah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Munggaran, di Desa Karanganyar, Kecamatan Darma, dan menurut keterangan resmi dari Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr Wahyu Hidayah, pada (25/8/2024) lalu yang menegaskan bahwa, singkong ini merupakan “singkong kawinan” hasil sistem sambungan ala Mukibat.
Mengapa Teknik Ini Tak Pernah Benar-Benar Populer di Kalangan Petani?
Meski hasilnya menjanjikan, teknik Mukibat sesungguhnya tidak pernah menjadi arus utama dalam budidaya singkong nasional. Ada alasan praktis di baliknya.
Ada sejumlah kendala di lapangan, antara lain adalah dibutuhkan keterampilan khusus dalam pembuatan bibit, tanaman ubi karet sebagai batang atas tidak selalu tersedia di setiap daerah, dan dibutuhkan penanganan lubang tanam yang berbeda dari budidaya singkong biasa.
Karena rumitnya proses grafting dan ketergantungan pada ketersediaan indukan ubi karet, teknik ini pun lebih banyak bertahan sebagai pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun ketimbang berkembang menjadi praktik industri berskala besar.
Baru pada beberapa dekade berikutnya, sejumlah petani dan peneliti mencoba meneruskan semangat inovasi Mukibat dengan cara berbeda. Sebagaimana KH Abdul Jamil (yang disebut kerabat Mukibat-red), bersama petani Soedigdo dari Lampung menemukan varietas baru bernama “darul hidayah” pada akhir 1990-an, yang mana pada kisaran tahun 1998 menarik perhatian seorang peneliti dari Balitkabi Malang, Koes Hartojo Hendroatmodjo, hingga akhirnya dilepas sebagai varietas unggul nasional pada tahun yang sama kala itu.
Klik halaman 4 untuk membaca >>>>>






