Perbedaan Mendasar Singkong Mukibat dengan Singkong Biasa
Merangkum berbagai sumber, ada tiga perbedaan mendasar antara singkong Mukibat dan singkong konvensional yang biasa ditanam petani Indonesia:
1. Cara memperbanyak dan penanaman
Singkong biasa diperbanyak dengan cara sederhana, yakni stek batang dari satu jenis tanaman yang sama. Sedangkan Singkong Mukibat lahir dari proses penyambungan (grafting) dua jenis ubi kayu berbeda, yang membutuhkan keahlian teknis lebih tinggi dan proses yang lebih rumit dalam penyiapan bibit.
2. Ukuran dan bobot umbi
Karena disokong oleh kanopi daun yang jauh lebih besar dari ubi kayu karet, umbi singkong Mukibat bisa tumbuh jauh melampaui ukuran singkong biasa, sebagaimana yang seringkali dikenal dengan nama “singkong raksasa” yang kerap diberitakan diberbagai media.
3. Rasa dan peruntukan konsumsi
Karena unsur genetik dari ubi kayu karet yang cenderung pahit ikut memengaruhi karakter umbinya, singkong Mukibat umumnya dianggap kurang enak untuk dikonsumsi langsung dibanding singkong biasa. Sifat inilah yang saat ini secara mengejutkan, justru menjadi nilai jual utamanya di sektor energi.
Dari Siasat Antipencuri, Kini Jadi Bahan Baku Bioetanol Nasional
Di sinilah letak ironi sekaligus keunikan kisah ini. Sifat “kurang enak dimakan” yang dulu sengaja diupayakan Mukibat untuk mengelabui pencuri di ladangnya, kini justru menjadi keunggulan strategis singkong ini di era energi terbarukan.
Berdasarkan laporan Kompas.com yang terbit pada 20 Juli 2026, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyusun strategi agar pasokan bahan baku bioetanol mencukupi ketika program E20 mulai diterapkan.
Menurutnya, pemerintah akan lebih dulu mengembangkan tiga komoditas, salah satunya adalah singkong mukibat yang kurang diminati untuk dikonsumsi langsung, sehingga diharapkan tidak mengganggu ketahanan pangan masyarakat.
Eniya menjelaskan alasan pemilihan singkong mukibat secara sepesifik.
“Nah bahan bakunya kita address tiga dulu. Ada ketela yang besar-besar, varietas mukibat. Karena lebih pahit, tidak berbenturan sama pangan dan patinya juga lumayan besar,” Eniya.
Selain singkong mukibat, dilaporkan bahwa pemerintah juga akan memanfaatkan jagung dan tebu sebagai sumber bioetanol, dengan bioetanol dari jagung berasal dari bagian bonggolnya alias bagian yang selama ini kerap menjadi limbah pertanian.
Strategi ini secara langsung menjawab kekhawatiran klasik dalam pengembangan energi berbasis tanaman pangan, yaitu potensi kompetisi antara kebutuhan pangan dan kebutuhan energi (sering disebut sebagai isu food vs fuel).
Dengan memilih varietas yang secara alami kurang diminati untuk konsumsi langsung namun tetap kaya kandungan pati, pemerintah berupaya memastikan produksi bioetanol tidak menggerus pasokan pangan nasional.
Mengapa Singkong Layak Jadi Andalan Bioetanol?
Secara ilmiah, singkong memang tergolong bahan baku ideal untuk produksi bioetanol.
Sebuah kajian akademik yang dimuat dalam jurnal Cocos terbitan Universitas Sam Ratulangi menjelaskan bahwa salah satu bahan pokok yang baik digunakan untuk menghasilkan bioetanol adalah singkong atau ubi kayu, karena kandungan patinya yang tinggi dapat difermentasi menjadi glukosa, kemudian diolah lebih lanjut menjadi etanol melalui proses destilasi.
Tim Redaksi BacainD.com juga mengutip dari materi ajar bioteknologi dari beberapa sumber buku, yang turut menjabarkan sisi keunggulan lingkungan dari bioetanol.
Bioetanol dianggap lebih ramah lingkungan karena karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran mesin akan diserap kembali oleh tanaman yang digunakan sebagai bahan baku berikutnya, sehingga tidak terjadi akumulasi karbon di atmosfer seperti yang lazim ditimbulkan oleh bahan bakar fosil.
Materi yang sama juga mencatat bahwa bioetanol memiliki angka oktan yang tinggi, mencapai 135.
Menariknya, kajian jurnal yang sama juga sempat mengingatkan potensi tarik-menarik kepentingan ini jauh sebelum isu ini menjadi kebijakan resmi pada 2026.
Dikutip dari jurnal Cocos, disebutkan bahwa pada 2012 Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian sempat mengadakan program “Mengangkat Gengsi Singkong untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Alternatif” sehingga singkong lebih diutamakan untuk persediaan bahan pangan, yang berarti ada kemungkinan persaingan penggunaan singkong antara sektor energi dan sektor pangan.
Kekhawatiran satu dekade lalu inilah yang tampaknya kini coba dijawab pemerintah lewat strategi memilih spesifik singkong mukibat sebagai bahan baku energi, karena karakternya yang memang bukan primadona konsumsi rumah tangga.
Klik halaman 5 untuk membaca >>>>>






