PASURUAN, BacainD.com – Upaya pelestarian satwa langka di Indonesia menorehkan prestasi gemilang lewat keberhasilan program pengembangbiakan Harimau Sumatera di Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen. Fasilitas konservasi yang berada di lereng Gunung Arjuna ini sukses mendukung persalinan alami dari mamalia karnivora endemik yang statusnya kini tengah terancam punah di alam liar.

Guna memastikan kondisi psikologisnya tetap stabil, empat ekor anak harimau yang baru lahir tersebut langsung ditempatkan di ruang isolasi khusus bersama sang induk agar terhindar dari kebisingan.

Vice President Life Sciences TSI Grup, drh. Bongot Huaso Mulia, menegaskan bahwa orientasi utama kelahiran ini adalah demi masa depan ekosistem yang lebih luas.

“Kehadiran empat bayi-bayi harimau di TSI Prigen saat ini, tidak dialokasikan sebagai tontonan wisatawan, melainkan difokuskan sepenuhnya untuk mendongkrak jumlah populasi mereka, baik di tingkat regional maupun internasional,” tegas Drh Bongot, Rabu (03/06/2026).

Bongot menjelaskan, kelahiran kali ini terbilang sangat langka dan istimewa lantaran jumlah anakan yang mencapai empat ekor dalam satu siklus reproduksi berada di atas rata-rata normal satwa sejenis.

Persalinan ini menjadi momen kedua kalinya bagi induk yang sama untuk melahirkan. Pihak medis menganalisis bahwa tingkat kesuburan yang tinggi ini didukung oleh kualitas sel telur yang sangat prima serta kecocokan genetik yang kuat dari pasangan indukan tersebut.

Meski berbuah manis, proses menjodohkan sepasang harimau dewasa merupakan fase paling krusial yang menuntut kompetensi tinggi dari tim ahli dan para perawat satwa. Kekeliruan kecil dalam mendeteksi, siklus kesuburan harimau betina dapat memicu konflik agresif yang berujung pada cedera serius hingga kematian satwa.

Oleh sebab itu, setelah proses persalinan berhasil dilalui, pihak TSI Prigen memilih untuk meminimalkan intervensi manusia pada anakan harimau dan menyerahkan proses asuh sepenuhnya kepada induknya.

“Fokus kami sekarang adalah membiarkan anak-anak harimau ini menjalani masa karantina lewat pola pengasuhan alami langsung oleh induknya sendiri,” jelas Bongot menambahkan.

Melalui metode pengasuhan mandiri ini, naluri keibuan dari harimau betina akan tetap terjaga dan semakin terasah untuk menghadapi siklus kehamilan di masa mendatang.

Secara umum, kesuksesan besar ini ditopang oleh empat pilar utama. Pertama, ketajaman perawat dalam membaca masa subur. Kedua, kejelian memantau tanda-tanda keberhasilan perkawinan. Ketiga, dukungan medis berupa pemberian suplemen serta pemeriksaan USG berkala.

“Keempat, penyediaan fasilitas kandang melahirkan yang steril, tenang, dan bebas dari segala bentuk gangguan luar. Keterlibatan terukur dari seluruh lini tim ahli ini terbukti mampu meminimalkan risiko kegagalan sejak awal masa penjodohan,” ujarnya.

Hingga saat ini, kondisi kesehatan keempat anak harimau tersebut dilaporkan sangat stabil dan menunjukkan grafik pertumbuhan fisik yang sangat baik. Tim dokter hewan terus memantau perkembangan mereka secara pasif menggunakan jaringan kamera pengawas (CCTV) agar tidak mengusik kenyamanan ruang gerak mereka di dalam kandang persalinan.

Keberhasilan luar biasa ini membawa secercah harapan baru bagi eksistensi salah satu predator puncak kebanggaan nusantara di tengah gempuran ancaman perburuan liar. (BM)

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

M. Bahrul Ulum

M. Bahrul Ulum adalah seorang wartawan BacainD.com - M. Bahrul Ulum merupakan Kepala Perwakilan Wilayah (Kaperwil) resmi yang bertugas di BacainD.com untuk wilayah Jawa Timur.