HOBY, BacainD.com – Tren memelihara kucing di Indonesia terus menanjak dan kini bukan lagi sekadar hobi sampingan, melainkan sudah menjelma menjadi gaya hidup tersendiri bagi masyarakat urban.

Dari apartemen di Jakarta hingga rumah-rumah di kota kecil, kehadiran kucing sebagai teman rumah tangga semakin lazim ditemui, lengkap dengan komunitas, bazar, hingga kontes kecantikan kucing peliharaan yang sering berseliweran di media sosial.

Fenomena ini terlihat jelas dari berbagai survei dan laporan terbaru dari berbagai media nasional yang menunjukkan besarnya antusiasme publik terhadap dunia perkucingan.

Namun di balik keragaman ras yang beredar di pasaran, ada pola menarik soal ras mana yang benar-benar merebut hati para pecinta kucing Tanah Air dan mengapa sebagian ras dibanderol dengan harga fantastis, sementara yang lain tetap ramah di kantong.

Kucing Kampung Masih Jadi Juara di Hati Masyarakat

Meski deretan ras impor dengan harga selangit kerap mencuri perhatian di media sosial, kenyataannya kucing domestik atau yang akrab disebut kucing kampung tetap menjadi pilihan terbanyak masyarakat Indonesia.

Dari catatan redaksi BacainD.com diperkirakan pemilik kucing di Indonesia memilih kucing lokal sebagai peliharaan mereka.

Ketahanan tubuh terhadap iklim tropis, kemampuan beradaptasi yang tinggi, dan biaya perawatan yang jauh lebih terjangkau menjadi alasan utama kucing kampung tetap digemari.

Kucing lokal juga dinilai memiliki daya tahan genetik alami terhadap penyakit-penyakit endemik dibandingkan kucing ras impor yang cenderung lebih rentan dan butuh perawatan medis yang lebih intensif.

Bahkan tanpa silsilah resmi, kucing kampung sering dianggap paling praktis bagi pemilik pemula karena minim risiko kesehatan bawaan genetik.

Persia, Sang Legenda yang Tak Lekang Zaman

Untuk kategori ras murni, gelar primadona masih dipegang kucing Persia. Wajahnya yang bulat dengan hidung pesek serta bulu panjang nan lebat membuatnya jadi favorit lintas generasi.

Karakternya yang tenang dan penyayang membuat Persia cocok dijadikan teman rumah yang setia, terutama bagi pemilik yang menyukai kucing bertemperamen kalem.

Popularitas Persia bukan tanpa alasan ilmiah maupun historis, ras ini konsisten masuk jajaran ras terpopuler di berbagai lembaga pencatatan kucing dunia berkat kombinasi tampilan menawan dan sifat penurut yang jarang ditemui pada ras lain.

Generasi Muda Mendorong Tren Ras “Kekinian”

Yang menarik, pergeseran selera mulai terlihat di kalangan anak muda dan kreator konten. British Shorthair dengan pipi tembam menggemaskan serta Scottish Fold dengan telinga terlipat khasnya kini banyak diburu karena tampilannya yang fotogenik dan viral di media sosial.

Di sisi lain, kucing Bengal juga mencuri perhatian berkat corak bulunya yang menyerupai macan tutul mini. Karakternya yang enerjik, cerdas, dan suka bermain menjadikannya pilihan ideal bagi pemilik aktif yang menginginkan interaksi lebih dari sekadar peliharaan pasif.

Tak ketinggalan, Ragdoll juga naik daun karena sifatnya yang lemas dan super manja saat digendong, sementara Munchkin dengan kaki pendeknya terus menjadi buruan kolektor karena keunikannya yang langka.

Kriteria Harga: dari yang Bersahaja Sampai yang Selangit

Salah satu hal yang membuat dunia perkucingan begitu dinamis adalah rentang harganya yang sangat lebar.

Informasinya, seekor kucing bisa dijual dengan harga ratusan ribu rupiah, tapi ada pula yang dibanderol hingga ratusan juta. Berikut gambaran kasarnya, berdasarkan rangkuman berbagai sumber pecinta kucing di Indonesia.

Kelas ekonomis (di bawah Rp2 juta)

  • Kucing kampung/domestik: umumnya gratis hingga ratusan ribu rupiah, bahkan sering diadopsi cuma-cuma dari komunitas penyelamat kucing.
  • Kucing Anggora lokal: sekitar Rp700 ribu–Rp2 juta.
  • Kucing Persia medium/campuran: mulai Rp1,4 juta–Rp3,5 juta tergantung kualitas bulu dan bentuk wajah.

Kelas menengah (Rp3 juta–Rp15 juta)

  • Munchkin dan Scottish Fold anakan dari breeder lokal: sekitar Rp3 juta–Rp5 juta.
  • Bengal campuran (mix): mulai Rp2 juta–Rp3,8 juta, sedangkan yang bersertifikat murni bisa mulai Rp10 juta.
  • Sphynx: mulai dari Rp14 juta hingga puluhan juta, tergantung garis keturunan dan kelengkapan sertifikat.

Kelas premium (di atas Rp15 juta hingga ratusan juta)

  • Persia dan Himalaya dengan sertifikat ras murni serta silsilah jelas: bisa mencapai Rp15 juta–Rp25 juta, bahkan lebih untuk kualitas kontes (show quality).
  • Russian Blue murni diperkirakan sekitar Rp39 juta.
  • Scottish Fold dan Bengal kelas kontes internasional: dapat menembus puluhan hingga ratusan juta rupiah jika diimpor langsung dari breeder bersertifikat luar negeri.
  • Savannah (hibrida kucing liar Serval Afrika) dan Bengal generasi awal (F1): termasuk kategori termahal di dunia, bahkan bisa menyentuh ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk kelas F1 betina murni.

Kenapa Bisa Semahal Itu? Ini Alasan di Baliknya

Bukan Sekadar Peliharaan: Ini Ras Kucing yang Jadi Primadona Pecinta Kucing di Indonesia
Foto: Ilustrasi.

Harga kucing tidak ditentukan asal-asalan. Setidaknya ada lima faktor utama yang membuat sebuah ras dihargai tinggi dan sekaligus menjadi incaran para kolektor maupun pecinta kucing kelas atas:

  • Kelangkaan genetik. Ras seperti Sphynx (tanpa bulu) atau Munchkin (berkaki pendek) lahir dari mutasi genetik alami yang jarang terjadi. Semakin sulit mutasi itu direplikasi secara konsisten, semakin tinggi pula nilainya di pasaran.
  • Silsilah dan sertifikasi resmi. Kucing dengan dokumen dari asosiasi ras kucing internasional, seperti The Cat Fanciers’ Association (CFA), biasanya dibanderol jauh lebih mahal dibanding kucing tanpa surat-menyurat, karena garis keturunannya bisa dipertanggungjawabkan dan bebas dari perkawinan sedarah yang tidak terkontrol.
  • Proses breeding yang rumit dan berbiaya tinggi. Ras hibrida seperti Bengal dan Savannah membutuhkan proses perkawinan silang lintas generasi antara kucing domestik dan kucing liar (Asian Leopard Cat atau Serval Afrika). Prosesnya panjang, berisiko gagal, dan membutuhkan izin serta perawatan khusus, sehingga biaya produksinya otomatis terbayar dalam harga jual.
  • Faktor tren dan gengsi sosial. Ras yang viral di media sosial atau sering muncul di konten kreator kucing global seperti Scottish Fold dan British Shorthair mengalami lonjakan permintaan yang mendorong harga naik meski secara genetik tidak selangka Sphynx atau Savannah.
  • Biaya perawatan jangka panjang. Beberapa ras premium, seperti Persia berbulu sangat panjang atau Sphynx yang butuh perawatan kulit khusus, memerlukan perawatan rutin yang mahal. Harga beli yang tinggi kerap mencerminkan pula “biaya masuk” bagi calon pemilik agar mereka sadar akan komitmen perawatan jangka panjang yang menyertainya.

Kucing Sebagai Terapi di Tengah Padatnya Kehidupan Kota

Di balik tren ras dan harga, ada alasan yang lebih personal mengapa masyarakat kian mencintai kucing.

Bagi banyak pemilik, kehadiran kucing di rumah memberi ketenangan dan menjadi pelarian dari tekanan rutinitas harian.

Seorang pecinta kucing bahkan menyebut interaksi dengan anabul kesayangannya sebagai cara sederhana untuk melepas penat dan menjaga kewarasan pikiran di tengah kesibukan aktivitasnya setiap hari.

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat urban akan pentingnya kesehatan mental, di mana memelihara hewan dianggap sebagai salah satu bentuk terapi yang murah namun efektif terlepas dari apakah kucing yang dipelihara berharga ratusan ribu atau ratusan juta rupiah.

Menjamurnya komunitas pecinta kucing di berbagai kota turut mendorong tumbuhnya ekosistem bisnis pendukung, mulai dari cat café, jasa grooming, produk perawatan premium, hingga kontes kecantikan kucing yang rutin digelar.

Tren ini menandakan hobi memelihara kucing di Indonesia telah berkembang menjadi ekosistem yang matang, tidak lagi sekadar aktivitas personal semata.

Bagi calon pemilik, penting untuk diingat bahwa harga mahal tidak selalu berbanding lurus dengan kecocokan gaya hidup. Kucing kampung yang murah meriah bisa jadi jauh lebih pas untuk pemula, sementara ras premium sebaiknya dipertimbangkan matang-matang, bukan hanya soal gengsi, tetapi juga kesiapan merawat kebutuhan khusus yang menyertainya seumur hidup si kucing.

Dengan beragam pilihan ras dari yang bersahaja seperti kucing kampung hingga yang eksotis seperti Bengal dan Sphynx, setiap pecinta kucing di Indonesia kini punya lebih banyak ruang untuk menemukan sahabat berbulu yang paling sesuai dengan gaya hidup dan bujet mereka. (THS)

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

Thanisa Aulia

Thanisa Aulia adalah seorang jurnalis profesional di BacainD.com yang berpengalaman dalam meliput berbagai isu aktual, mulai dari pemerintahan, hukum, hingga sosial kemasyarakatan. Mengedepankan akurasi, keberimbangan, dan kedalaman informasi dalam setiap tulisan, ia berkomitmen menghadirkan berita yang kredibel, tajam, dan dapat dipercaya oleh publik.