Apakah media sosial sekadar produk teknologi modern, atau justru kelanjutan dari naluri purba manusia yang sejak ribuan tahun lalu ingin didengar, dilihat, dan diakui?

LIFESTYLE, BacainD.com – Fenomena media sosial yang kini merasuk ke hampir seluruh aspek kehidupan manusia sejatinya tidak lahir secara tiba-tiba.

Ia merupakan hasil evolusi panjang peradaban manusia dalam berkomunikasi, membangun relasi, dan membentuk opini publik.

Dari cara-cara sederhana di masa prasejarah hingga algoritma canggih di era digital, media sosial berkembang menjadi ruang publik baru yang mengubah wajah dunia.

Naluri Manusia ‘Bersosial Media’ Sejak Zaman Prasejarah

Dalam perspektif sejarah, kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan berbagi informasi sudah muncul sejak ribuan tahun lalu.

Lukisan di dinding gua menjadi salah satu bentuk awal komunikasi simbolik, sementara tradisi lisan berkembang sebagai sarana menyampaikan cerita, nilai, dan identitas kelompok.

Memasuki era peradaban kuno, interaksi sosial semakin terorganisir melalui ruang-ruang publik seperti pasar, forum, dan pusat kegiatan masyarakat.

Di Kekaisaran Romawi, dikenal sistem penyampaian informasi publik yang menyerupai papan pengumuman, yang berfungsi sebagai media penyebaran informasi kepada masyarakat luas.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak awal, manusia tidak hanya ingin berkomunikasi, tetapi juga membangun pengaruh dan eksistensi di tengah komunitasnya.

Revolusi Informasi Dari Mesin Cetak ke Media Massa

Perubahan besar dalam sejarah komunikasi terjadi ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak pada abad ke-15.

Sejarah Panjang Lahirnya Media Sosial, Dari Gua ke TikTok
FOTO: Rekam Jejak Media Sosial di peradaban. (AI/BacainD.com)

Inovasi ini memungkinkan penyebaran informasi secara massal melalui buku, pamflet, dan surat kabar.

Untuk pertama kalinya, informasi tidak lagi terbatas pada kalangan elite, melainkan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Namun, komunikasi pada masa saat itu, masih bersifat satu arah, di mana publik hanya menjadi penerima informasi.

Memasuki abad ke-20, perkembangan teknologi seperti telepon, radio, dan televisi mempercepat arus informasi. Meski lebih cepat dan luas, pola komunikasi tetap didominasi oleh sistem “satu ke banyak”.

Lahirnya Komunitas Digital di Era Abad ke-20

Transformasi menuju media sosial modern mulai terlihat pada akhir abad ke-20 dengan hadirnya internet.

Teknologi ini membuka ruang komunikasi yang lebih interaktif dan tanpa batas geografis.

Kemunculan Usenet pada 1979 menjadi tonggak penting dalam pembentukan komunitas digital. Platform ini memungkinkan pengguna untuk berdiskusi secara terbuka, membentuk kelompok, serta membangun identitas di dunia maya.

Di fase ini, konsep “komunitas virtual” mulai terbentuk dengan sebuah fenomena baru dalam sejarah manusia yang memungkinkan interaksi sosial tanpa kehadiran fisik.

Era Awal Media Sosial, Dari SixDegrees ke Friendster

Memasuki akhir 1990-an, dunia mulai mengenal platform jejaring sosial pertama seperti SixDegrees yang diluncurkan pada 1997.

Platform ini memungkinkan pengguna membuat profil pribadi dan menjalin koneksi dengan orang lain.

Perkembangan ini kemudian dilanjutkan oleh Friendster dan MySpace pada awal 2000-an.

Kedua platform tersebut menjadi wadah ekspresi diri generasi awal pengguna internet, termasuk di Indonesia.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, identitas, relasi, dan ekspresi diri menyatu dalam satu ruang digital.

Revolusi Global: Ketika Semua Orang Menjadi Media

Perubahan paling signifikan terjadi ketika Facebook hadir pada 2004.

Platform ini menghubungkan miliaran orang di seluruh dunia dan mengubah cara manusia berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah Panjang Lahirnya Media Sosial, Dari Gua ke TikTok
FOTO: Media Sosial di Genggaman. (Ist)

Kehadiran YouTube pada 2005 dan Twitter yang saat ini berubah nama menjadi “X” pada 2006 semakin memperkuat pergeseran peran masyarakat, dari sekadar konsumen menjadi produsen informasi.

Di titik ini, media tidak lagi dimonopoli oleh institusi besar. Setiap individu dapat menjadi penyebar informasi, pembentuk opini, bahkan influencer dengan jangkauan global.

Apalagi untuk saat ini, oerkembangan teknologi smartphone pada dekade ini membawa media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Platform seperti Instagram, WhatsApp, dan TikTok mengubah pola interaksi manusia secara drastis.

Media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan telah berkembang menjadi ekosistem yang mencakup hiburan, bisnis, hingga politik.

Sistem algoritma yang digunakan mampu menyajikan konten secara personal, membuat pengguna terus terlibat tanpa henti.

Mengapa Media Sosial Begitu Mengikat dan Memikat?

Dalam kajian Sosiologi, daya tarik media sosial tidak hanya terletak pada teknologinya, tetapi juga pada kemampuannya menyentuh aspek psikologis manusia.

Setiap notifikasi, “like”, dan komentar memicu pelepasan dopamin di otak. Mekanisme ini membuat pengguna terdorong untuk terus kembali dan berinteraksi.

Sejarah Panjang Lahirnya Media Sosial, Dari Gua ke TikTok
FOTO: Pusing Pengakuan di Medsos. (Ist)

Selain itu, media sosial memenuhi kebutuhan dasar manusia akan eksistensi. Di ruang digital, setiap individu memiliki kesempatan untuk tampil, berbicara, dan diakui. Fenomena fear of missing out (FOMO) juga memperkuat keterikatan tersebut, dimana masyarakat merasa perlu untuk terus terhubung agar tidak tertinggal informasi.

Secara sosial, media sosial telah menjelma menjadi “panggung global” yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah manusia.

Antara Peluang dan Tantangan

Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, media sosial juga menghadirkan tantangan serius. Penyebaran informasi yang sangat cepat sering kali tidak diimbangi dengan verifikasi yang memadai, sehingga memicu munculnya hoaks, polarisasi, hingga manipulasi opini publik.

Namun di sisi lain, media sosial juga membuka peluang besar, mulai dari demokratisasi informasi, penguatan partisipasi publik, hingga lahirnya berbagai peluang ekonomi baru di era digital.

Perspektif Sejarah Islam: Jaringan Sosial dan Verifikasi Informasi

Dalam sejarah Islam, pola komunikasi berbasis jaringan sosial sebenarnya telah dikenal sejak lama. Aktivitas dakwah pada masa Nabi Muhammad SAW dilakukan melalui interaksi langsung di pasar, majelis, dan komunitas.

Selain itu, sistem sanad dalam penyebaran hadis menunjukkan pentingnya verifikasi informasi sebelum disampaikan kepada publik. Prinsip ini menjadi relevan di era media sosial saat ini, di tengah maraknya penyebaran hoaks dan disinformasi.

Apalagi dalam kitab suci al-qur’an, verifikasi informasi atau tabayun sudah termaktub didalamnya agar tersangkal dari berita hoax yang bisa menyesatkan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Arab latin: Yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ ‘alā mā fa’altum nādimīn

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al-Hujurat: Ayat 6).

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar juga menafsirkan hal serupa. Menurutnya, surah Al Hujurat ayat 6 memberi larangan keras untuk percaya kepada berita-berita yang dibawa oleh orang fasik.

“Diselidikilah terlebih dahulu dengan seksama sekali benar atau tidaknya, jangan sampai karena terburu menjatuhkan keputusan yang buruk atas suatu perkara, sehingga orang yang diberitakan itu telah mendapat hukuman padahal kemudian ternyata bahwa tidak ada sama sekali salahnya dalam perkara yang diberitakan orang itu.” bunyi Tafsir Al-Azhar.

Tabayyun sendiri dimaknai sebagai mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar adanya. Yalizar Rahayu dalam buku Etika Komunikasi di Media Sosial menerangkan bahwa bertabayyun sama artinya dengan mengklarifikasi sebelum percaya sepenuhnya terhadap informasi tersebut.

Dalil terkait tabayyun ini merujuk pada surah Al Hujurat ayat 6. Hal ini membuktikan pentingnya bertabayyun bagi kaum muslimin agar terhindar dari fitnah hingga kesalahpahaman.

Media Sosial: Evolusi yang Belum Berakhir

Sejarah Panjang Lahirnya Media Sosial, Dari Gua ke TikTok

Pada akhirnya, media sosial bukan sekadar produk teknologi, melainkan bagian dari perjalanan panjang peradaban manusia.

Dari lukisan gua hingga layar ponsel, menaruh bukti bahwa manusia terus mencari cara untuk terhubung, berbagi, dan mendapatkan pengakuan.

Perbedaannya, jika dahulu proses tersebut membutuhkan waktu panjang dan ruang terbatas, kini semuanya dapat terjadi dalam hitungan detik dengan jangkauan global.

Dan selama manusia masih memiliki kebutuhan untuk didengar dan diakui, evolusi media sosial ini tampaknya belum akan berhenti, bahkan akan terus berevolusi dan digandrungi oleh banyak kalangan. (Khf/BacainD.com)

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

Kahfi El Kawakibi

Kahfi el Kawakibi adalah Jurnalis yangh sudah berpengalaman dalam meliput isu strategis di Indonesia, termasuk kebijakan pemerintah pusat hingga daerah, pembangunan, dan persoalan publik. Menjunjung tinggi prinsip jurnalistik dalam setiap karya yang dipublikasikan.