JAKARTA, BacainD.com – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah menuai respons beragam. Di satu sisi membantu pemenuhan gizi pelajar, namun di sisi lain mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha kecil, seperti pedagang jajanan di sekitar sekolah.
Abdul (50), pedagang cakwe yang telah bertahun-tahun berjualan di depan SMPN 81 Jakarta, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, mengaku mengalami penurunan pendapatan secara signifikan sejak program MBG diterapkan.
Sebelum adanya program tersebut, Abdul biasanya mampu menjual hingga 4 kilogram dagangan setiap hari. Kini, jumlah itu menyusut drastis. Bahkan saat ia hanya membawa 2 kilogram, dagangannya kerap tidak habis terjual.
“Dulu bawa 4 kilo pasti habis. Sekarang bawa 2 kilo saja masih banyak sisa,” ujarnya.
Menurut Abdul, perubahan pola konsumsi siswa menjadi faktor utama menurunnya omzet.
Jika sebelumnya ratusan siswa membeli jajanan, kini hanya segelintir yang masih jajan di luar sekolah.
“Kalau dulu yang jajan bisa banyak, sekarang paling tiga atau empat orang saja. Penurunannya sampai sekitar 75 persen,” kata dia.
Di tengah kondisi tersebut, Abdul juga menghadapi kenaikan harga bahan baku dan perlengkapan, seperti plastik kemasan.
Namun, ia mengaku tidak berani menaikkan harga jual karena khawatir semakin kehilangan pembeli.
“Bahan-bahan naik, tapi kita tidak bisa naikkan harga. Jajanan tetap segitu saja, kualitas juga tidak dikurangi,” tambahnya.
Abdul berharap pemerintah dapat mempertimbangkan nasib pedagang kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas di sekitar sekolah.
Ia bahkan mengusulkan agar program MBG dievaluasi atau diubah dalam bentuk bantuan langsung.
“Harapannya sih pemerintah juga memikirkan pedagang kecil. Kalau bisa, mungkin bantuannya dalam bentuk lain, misalnya uang,” ungkapnya.
Kehadiran program MBG memang membawa manfaat bagi siswa, namun dampaknya terhadap ekonomi mikro di sekitar sekolah menjadi catatan yang perlu diperhatikan.
Pemerintah diharapkan dapat mencari solusi agar kebijakan yang ada tetap berjalan tanpa mengorbankan pelaku usaha kecil.






