Banda Aceh, BacainD.com – Bagi sebagian musisi, setiap lagu berdiri sebagai karya yang terpisah. Namun bagi musisi independen asal Aceh, zama., lagu-lagu yang ia rilis selama beberapa tahun terakhir justru membentuk sebuah cerita utuh tentang perjalanan hidupnya.
Hampir seluruh lagu yang dirilisnya lahir dari pengalaman pribadi bersama sosok yang dahulu menjadi kekasihnya dan kini telah menjadi istrinya. Jika disusun berdasarkan kisah yang terkandung di dalamnya, lagu-lagu tersebut membentuk sebuah alur perjalanan cinta yang penuh penantian, kerinduan, penyesalan, ketabahan, hingga akhirnya berujung pada komitmen dan kehidupan baru.
Perjalanan itu dimulai melalui lagu “Tunggu Aku“.
Dalam lagu tersebut, zama. menceritakan hubungan jarak jauh yang sedang dijalaninya. Liriknya dipenuhi penyesalan atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, permohonan maaf kepada pasangan, serta pengakuan bahwa sang kekasih tetap setia menunggu di tengah berbagai keadaan. Di bagian akhir lagu, terdapat janji untuk kembali bertemu dan membuktikan bahwa penantian tersebut tidak sia-sia.
Namun perjalanan itu ternyata belum selesai.
Melalui lagu “Menghitung Rindu”, zama. melanjutkan cerita tentang hubungan yang semakin kuat secara komitmen, tetapi masih harus menghadapi satu tantangan besar: jarak.
Lagu ini menggambarkan bagaimana hubungan jarak jauh menjadi ujian yang harus dilewati bersama. Salah satu bagian yang paling membekas bagi para pendengar adalah penggalan lirik:
“Dan kau ajarkan aku arti menunggu, walau pertemuan tak membunuh rindu.”
Bagi zama., kalimat tersebut menggambarkan sebuah kenyataan yang sering dirasakan oleh pasangan LDR. Pertemuan memang mampu mengobati rindu untuk sesaat, tetapi ketika harus berpisah kembali, kerinduan itu justru tumbuh semakin besar.
Setelah penantian panjang, kisah tersebut berlanjut melalui lagu “Derana”.
Secara harfiah, derana memiliki makna tahan dan tabah dalam menghadapi penderitaan, tidak mudah menyerah, serta tidak lekas patah hati. Melalui lagu ini, zama. mengungkapkan rasa bersalah atas berbagai kekecewaan yang pernah ia berikan kepada pasangannya.
“Derana” menjadi bentuk permohonan maaf yang lebih dalam. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang menyadari bahwa dirinya tidak sempurna, tetapi tetap diterima dan dicintai oleh orang yang pernah ia kecewakan. Sebuah penghormatan terhadap kesabaran dan ketulusan pasangan yang memilih bertahan.
Perjalanan panjang tersebut akhirnya bermuara pada lagu “Ikrar”.
Setelah melewati fase menunggu, menghitung rindu, dan merasakan derana, hubungan yang selama ini diperjuangkan akhirnya dibawa ke jenjang yang lebih serius.
“Ikrar” merupakan lagu yang secara khusus ditulis zama. sebagai hadiah pernikahan untuk sang istri. Lagu tersebut menjadi simbol dari janji yang selama bertahun-tahun diperjuangkan hingga akhirnya terwujud dalam sebuah ikatan yang sah.
Tak heran jika banyak pendengar menganggap “Ikrar” sebagai puncak dari kisah yang sebelumnya dibangun melalui lagu-lagu terdahulu.
Selain lagu-lagu tersebut, terdapat satu karya unik dalam katalog musik zama., yakni “Lose You”.
Berbeda dengan lagu lainnya yang lahir dari pengalaman pribadi, “Lose You” justru terinspirasi dari kisah seorang teman. Lagu berbahasa Inggris tersebut menjadi satu-satunya lagu dalam diskografi zama. yang tidak berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri.
Menurut pengakuannya, lagu tersebut terinspirasi dari cerita seorang teman yang merasa hampa setelah ditinggalkan oleh kekasihnya dan sempat berada di titik terendah dalam hidup. Karena itulah, “Lose You” memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan karya-karya lain yang lebih personal.
Kini, setelah melalui berbagai fase kehidupan tersebut, zama. kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Lakara”.
Berbeda dari lagu-lagu sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada hubungan romantis, “Lakara” membawa pesan yang lebih luas. Lagu ini bercerita tentang sosok yang selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan, menjadi pelita di tengah kegelapan, menggenggam tangan saat menghadapi ujian, dan memberikan keyakinan untuk terus melangkah.
Melalui metafora perjalanan laut, ombak, badai, dan muara, “Lakara” menggambarkan bahwa impian hanya dapat dicapai dengan kesabaran, keteguhan, dan kehadiran orang-orang yang selalu mendukung dari belakang.
Bagi banyak pendengar, lagu ini terasa seperti babak baru dalam perjalanan musikal zama. Sebuah fase yang tidak lagi hanya berbicara tentang cinta dua insan, tetapi juga tentang keluarga, perjuangan hidup, dan harapan untuk masa depan.
Menariknya, masa depan tersebut tampaknya akan segera hadir dalam bentuk karya baru. Dalam wawancara terbaru, zama. mengungkapkan bahwa proyek berikutnya adalah sebuah lagu yang ditulis khusus untuk anaknya. Proses penulisan lirik disebut telah rampung sepenuhnya, sementara tahap produksi saat ini tinggal memasuki proses penyelesaian akhir.
Proyek tersebut masih dikerjakan bersama Second Home Music, grup kolektif musik yang didirikannya pada 2017. Di dalam kolektif tersebut, tergabung nama-nama seperti Razi Abdul dan Cut Vita sebagai penyanyi asal Aceh, serta RaAlpha, sahabat zama. sejak masa SMK yang dikenal sebagai seorang rapper.
Menariknya lagi, zama. juga mengungkapkan rencana menghadirkan sebuah alter ego musikal yang berbeda jauh dari karakter yang selama ini dikenal publik. Sosok baru tersebut tidak akan menggunakan nama panggung “zama.” untuk membedakan karakter musisi melankolis yang selama ini dikenal melalui lagu-lagu romantisnya dengan persona rapper yang lebih jenaka, santai, dan tengil. Menurut rencana, proyek alter ego tersebut akan diperkenalkan kepada publik pada akhir tahun 2026.
Jika seluruh lagu yang telah dirilis selama ini adalah catatan perjalanan hidupnya, maka tampaknya cerita yang ditulis oleh zama. masih akan terus berlanjut dalam babak-babak berikutnya.






