PASURUAN, BacainD.com – Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangil periode 2026-2031 kini telah resmi mengemban amanah organisasi. Prosesi pelantikan kepengurusan baru tersebut dilaksanakan pada hari Minggu (07/06/2026) di Gedung Graha NU, Jalan Raya Pandaan-Bangil Km 5, Desa Baujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.
Agenda pelantikan ini diadakan sebagai kelayakan struktural atas keputusan Konferensi Cabang yang sebelumnya telah disahkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tanggal 9 November 2025 yang lalu.
Momen penting ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, serta seluruh elemen PCNU Kabupaten Pasuruan. Pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Timur, Dr. H. Misbahul Munir,
Nakhoda baru Tanfidziyah PCNU Bangil, Drs. H. Eddy Supriyanto menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas mandat dan sokongan yang diberikan. Langkah awal yang akan diambil pihaknya adalah melaksanakan musyawarah kerja (musker) perdana untuk merumuskan agenda lima tahun ke depan.
“Langkah awal kami adalah membidik program prioritas serta super prioritas. Fokus paling utama saat ini adalah mendirikan badan usaha komersial milik NU. Kami berencana meluncurkan produk air minum kemasan dengan merek Nuansa NU,” ucap Aba Eddy sapaan akrabnya.
Gagasan ini mendapat respons positif dari Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Mahfudz. Ia menilai bahwa inovasi bisnis tersebut merupakan langkah konkret dalam membangun kekuatan finansial internal organisasi.
“Inisiatif PCNU Bangil untuk memproduksi air mineral sendiri adalah hal yang luar biasa. Strategi ini sangat efektif untuk menguatkan kemandirian kita. Etos kerja dari Bangil ini patut dicontoh oleh wilayah lain, karena apa yang kita upayakan sejatinya adalah bentuk pengabdian kepada umat,” puji Gus Kikin.
Di sisi lain, Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf mengucapkan selamat kepada pengurus PCNU Bangil yang telah di Lantik.
“Saya mengucapkan selamat bagi pengurus yang baru diambil sumpahnya. Pelantikan ini bukan sekadar rutinitas formalitas semata. NU dituntut untuk terus bergerak dinamis mengikuti roda zaman yang membawa tantangan-tantangan baru,” kata Gus Yahya.
Beliau menggarisbawahi bahwa era modern menuntut pengelolaan organisasi berbasis digital agar sistem administrasi dapat berjalan lebih praktis dan efisien.
“Di masa sekarang, mengelola roda organisasi NU bahkan bisa dilakukan sambil bersantai lewat ponsel. Kuncinya ada pada kemauan untuk beradaptasi. Organisasi yang kaku pasti akan tergilas. Para kiai NU terbukti bisa menyesuaikan diri dengan teknologi saat ini, sebenarnya mudah tinggal mengoperasikan layar ponsel saja,” ujarnya.
Gus Yahya juga memberikan perumpamaan ilmiah mengenai konsep bertahan hidup di alam, di mana ketahanan sebuah kelompok tidak diukur dari skala ukurannya melainkan fleksibilitasnya.
“Hewan purba berukuran besar seperti dinosaurus bisa punah, sedangkan hewan kecil seperti lipan masih bertahan hingga kini. Bersyukur, NU termasuk wadah yang punya daya tahan kuat. Banyak pergerakan lain yang hilang dari peredaran karena gagal menyesuaikan diri,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya mengimbau agar setiap jenjang kepengurusan, mulai dari cabang, MWC, hingga tingkat ranting terkecil, memahami peran dan fungsinya secara kolektif.
“Seluruh lini harus terintegrasi dengan baik. Jangan sampai ada ketimpangan persepsi antarwilayah hanya karena sebuah daerah memiliki banyak ulama besar. NU itu bersifat menyeluruh. Oleh karena itu, kita perlu memperkuat tata kelola, melakukan kaderisasi berkelanjutan, serta pelatihan intensif agar setiap anggota paham aturan main organisasi. Sistem digital ini juga wajib diimplementasikan hingga ke tingkat struktur terbawah,” pungkasnya. (BM)






