BEKASI, BacainD.com – Udara segar tampaknya menjadi barang mewah bagi warga yang tinggal di belakang pabrik pengolahan plastik bekas di Jalan Pangkalan 2, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi. Pasalnya, belakangan ini aroma busuk yang menyengat, diduga kuat berasal dari aktivitas pemrosesan limbah plastik, meneror kesehatan dan kenyamanan ratusan Kepala Keluarga (KK).
Kondisi pemukiman padat penduduk, menempel persis di dinding belakang pabrik membuat kepulan aroma tak sedap itu terperangkap, mersek ke dalam ruang rumah-rumah warga hingga memicu gelombang protes keras.
Tim investigasi di lapangan mendapati keluhan yang nyaris seragam dari masyarakat setempat. Rasa frustrasi warga sudah berada di ubun-ubun akibat polusi udara yang ditimbulkan oleh aktivitas industri tersebut.
”Bau banget ampe muntah, engga mikirin warga itu pabrik plastik,” tukas seorang warga setempat dengan nada ketus saat ditemui, Sabtu (20/6/2026). Demi alasan keamanan, ia meminta identitasnya dirahasiakan.
Warga mengaku, aktivitas sehari-hari mereka terganggu total. Jangankan untuk menikmati makanan, untuk sekadar bernapas secara normal di dalam rumah sendiri pun kini menjadi perjuangan yang menyiksa.
“Sehari-hari ya sangat bau mas, jangankan mau makan, duduk bersama keluarga saja bau nya sangat menyengat mas,” ujarnya.
Mendengar jeritan warga yang kian memprihatinkan, Suryono, ST, yang akrab disapa ‘Ketua Aing’, selaku Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Bantargebang langsung bergerak sigap mendatangi lokasi pabrik pengolahan plastik bekas tersebut.
“Kami langsung cek kelokasi, setelah mendapatkan laporan dari sejumlah warga sekitar,” kata Ketua Aing.
Namun, ada pemandangan ganjil saat pemantauan lapangan dilakukan. Pabrik dalam keadaan tertutup rapat seolah membatasi akses dari luar. Meski demikian, dinding tinggi pabrik tak mampu menyembunyikan “dosa” polusi udara yang dihasilkan. Bau busuk yang menusuk hidung tetap tercium sangat pekat dari luar area luar.
“Saat kami dilokasi itu terasa ganjal. Karena kita mau melihat ke dalam itu sangat sulit dan tertutup dinding tinggi. Untuk baunya, memang betul sangat menyengat dari luar area pabrik,” jelasnya.
Menyaksikan langsung penderitaan warga dan mencium sendiri bau menyengat tersebut, Suryono menegaskan bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebagai bagian dari pers, fungsi kontrol sosial harus ditegakkan demi membela hak-hak hidup sehat masyarakat.
Suryono ‘Ketua Aing’ mendengarkan setiap keluh kesah warga dengan seksama. Sebagai jurnalis yang peka terhadap isu sosial di wilayahnya, beliau langsung memberikan saran taktis agar masalah ini segera dicarikan solusi konkret melalui jalur mediasi resmi antara warga dan pemilik pabrik.
”Kenyamanan warga terutama kesehatan harus di utamakan, fungsi saya sebagai kontrol sosial masyarakat terutama ini ada di wilayah Bantargebang, maka saya akan dampingi,” tegas Ketua Aing Sabtu (20/6/2026).
Sebagai Ketua Pokja Wartawan Bantargebang, beliau menyatakan siap mengawal kasus ini dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengusut tuntas legalitas serta pengelolaan limbah pabrik. Langkah mediasi yang diusulkan akan melibatkan dinas terkait, terutama Camat Bantargebang dan Lurah Sumur Batu, Babinsa dan Bimaspol untuk menjaga kondusivitas serta Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Bekasi untuk menguji kadar polusi.
”Segala permasalahan pasti ada jalan keluar, selagi semua pihak mau duduk bersama. Nanti saya akan berkoordinasi dengan para pemangku jabatan di wilayah untuk bisa menyelesaikan masalah ini,” tutur Ketua Aing.
Hingga berita investigasi ini ditayangkan, pemilik maupun manajemen pabrik pengolahan plastik bekas di Jalan Pangkalan 2 tersebut belum bisa memberikan keterangan resmi terkait protes warga.
Tim Redaksi bersama Pokja Wartawan Bantargebang masih terus menggali informasi mendalam dan menelusuri asal muasal sumber bau busuk yang menyengat yang telah menimbulkan keresahan massal ini. (Suryo)






