PASURUAN, BacainD.com – Berniat hati ingin mencari uang tambahan demi mencukupi kebutuhan ekonomi yang kian naik. Sejumlah pemilik lahan parkir yang berada di halaman rumahnya di Desa Rembang, Kecamatan Rembang justru dihantui untuk membayar pajak sebesar 10 persen kepada Pemerintah Daerah (Pemda) setempat.
Dari pantauan di lokasi, terdapat delapan lokasi parkir yang dikhususkan kepada para pelajar di wilayah Desa setempat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan.
Menurut pengakuan dari salah satu pemilik lahan parkir, bahwa ini bukan bisnis besar. Ini usaha sederhana untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari.
Tetapi, mimpi itu berbanding terbalik. Mereka (Pemilik Lahan Parkir) justru dihantui membayar kewajiban pajak sebesar 10 persen setiap bulannya. Maka, para pemilik lahan semakin bingung.
“Kami benar-benar tidak tau, kenapa kami dibebani pajak lagi. Padahal, setiap tahun saya sudah membayat PBB, tanah ini juga sudah saya bayar pajaknya, kenapa ini masih disuru bayar lagi,” ujar keheranan warga kepada Pemda.
Ia menjelaskan bahwa, lahan ini bukan hasil sewa atau bisnis besar. Ia hanya memanfaatkan lahanya sendiri, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Bahkan, ia membuka lahan parkir untuk para pelajar.
“Jika dihitung, penghasilan tidak seberapa tapi alhamdulillah cukup untuk kebutuhan keluarga. Tetapi, jika hasil kami di potong untuk membayar pajak, terus kami mencari pendapatan tambahan dari mana?. Padahal kami, membuka saat jam sekolah saja,” jelasnya.
Senada dengan itu, keluhan lain juga nampak disuarakan oleh pemilik lahan lainnya. Ia mengaku heran dengan kebijakan seperti ini. Padahal, kebutuhan ekonomi kian merangkak naik
“Heran saya mas dengan kebijakan ini, belum lagi harga kebutuhan pangan pokok di pasar terus naik, ditambah penghasilan tidak menentu. Sekarang kami harus dibebani pajak lagi,” tuturnya.
“Kami berharap, kedepannya benar-benar ada kebijakan kepada wong cilik (Rakyat Kecil),” imbuhnya.
Delapan pemilik lahan parkir juga berharap, agar Bupati Pasuruan lebih mendengarkan rakyat kecil. Karena, ia hanya mencari keuntungan kecil dengan memanfaatkan tanah miliknya sendiri.
“Kami tidak meminta bantuan. Kami hanya berharap diberikan kebijakan yang bijaksana. Tolong lihat kondisi kami. Jangan sampai usaha kecil yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga justru semakin tercekik karena beban pajak,” pungkasnya. (BM)






