Menu

Somed BacainD

Mengenal Kirab Gunungan Apem, Tradisi Warga Malang Sambut Ramadhan

Kirab Gunungan Apem, tradisi warga Malang dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan. (Ist/detik)

Foto: Kirab Gunungan Apem, tradisi warga Malang dalam menyambut datangnya bulan suci ramadhan. (Ist/detik)

MALANG, BacainD.com – Ratusan warga Kota Malang, Jawa Timur, menggelar tradisi arak-arakan gunungan apem untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan 1446H/2025, Kamis (27/2/2025).

Meskipun diguyur gerimis, antusiasme warga tetap tinggi dalam mengikuti kirab yang merupakan tradisi turun-temurun.

Peserta kirab yang mengenakan seragam putih dengan bawahan gelap ini berasal dari berbagai usia.

Mereka mengarak gunungan apem keliling kampung menuju kompleks makam leluhur, Ki Ageng Gribig.

Setibanya di makam, ribuan apem yang telah disiapkan didoakan dan kemudian diperebutkan sebagai simbol kebersamaan.

Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, mengungkapkan bahwa tradisi ini telah dilakukan secara rutin sebagai bentuk sukacita dalam menyambut Ramadan.

BacainD Juga:  Gairah Wisata Pasuruan Semakin Diminati, Kadis Pariwisata: Jumlah Wisatawan Mengalami Peningkatan di 2024

Menurutnya, kue apem selalu hadir dalam setiap rangkaian tradisi ini.

“Di kompleks makam Ki Ageng Gribig, kami selalu menyambut Ramadan dengan penuh sukacita. Salah satu ciri khasnya adalah pembuatan apem,” jelas Devi.

Apem, yang dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘afwan’ yang berarti maaf atau ampunan, menjadi simbol permohonan maaf dan ampunan antar sesama manusia.

“Konsep apem adalah permohonan maaf sesama manusia sebelum memasuki bulan puasa. Dengan begitu, kita menyambut Ramadan dengan hati yang damai dan tenang,” tambahnya.

Ribuan apem yang diperebutkan ini dibuat secara gotong royong oleh masyarakat sebagai wujud kebersamaan.

Sebanyak 15 kilogram apem, atau sekitar 70 biji per kilogram, telah disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat dan para peziarah yang berkunjung ke kompleks makam Ki Ageng Gribig.

BacainD Juga:  Tabrak Motor di Depannya, Pria Asal Probolinggo Meninggal Dunia

“Kali ini kami membuat 15 kilogram apem. Semua apem akan habis dibagikan kepada masyarakat dan peziarah,” kata Devi.

Selain sebagai simbol persatuan, tradisi ini juga merupakan upaya untuk melestarikan warisan leluhur.

Devi berharap generasi muda dapat terus mempertahankan dan merawat tradisi ini di masa yang akan datang.

“Kami ingin menjaga dan melestarikan hal-hal baik yang telah diwariskan oleh para tetua,” tutupnya. (Tns)

Berita Terkait

Berita Lainnya

Leave a Reply

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp Chanel BacainD.com
PT Air Liquide Group ucapan selamat hari Raya Idul Fitri
Ucapan Ramadhan BacainD.com