MAGETAN, BacainD.com – Pertemuan singkat seorang ayah dengan putranya di Jakarta pada Selasa (8/9/2026) ternyata menjadi perjumpaan terakhir.
Dua hari berselang, Serda Ahmad Muzammil Farisa (AMF), prajurit muda TNI Angkatan Udara, meninggal dunia.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus sejumlah pertanyaan bagi keluarga.
Keluarga menduga kematian Serda Ahmad berkaitan dengan dugaan kekerasan yang dialaminya di lingkungan asrama.
Dugaan tersebut kini tengah diselidiki Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau).
Empat personel senior yang disebut diduga terlibat, masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH, telah menjalani pemeriksaan dalam berita acara pemeriksaan (BAPK).
Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengatakan informasi mengenai dugaan penganiayaan itu diperolehnya dari sejumlah pihak.
Menurutnya, kejadian diduga bermula ketika putranya diminta membeli makanan oleh senior.
Namun, makanan yang dibawa Serda Ahmad disebut tidak sesuai dengan permintaan. Senior disebut meminta mi kuah, sedangkan Serda Ahmad membawa mi goreng.
“Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” kata Toni, Jumat dini hari (11/9/2026).
Toni mengaku mendapat informasi bahwa dugaan kekerasan itu terjadi dalam dua waktu berbeda.
Peristiwa pertama disebut berlangsung pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB, kemudian kembali terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
“Info yang saya dapat ada dua kali waktu penganiayaan, yang pertama pukul 23.00 WIB dan yang kedua dini harinya pukul 03.00 WIB,” ujarnya.
Yang membuat keluarga semakin terpukul, informasi mengenai kematian Serda Ahmad yang pertama kali diterima Toni disebut berbeda dengan informasi yang datang kemudian.
Sekitar pukul 04.00 WIB, Toni mendapat kabar dari salah seorang rekan putranya bahwa Serda Ahmad telah meninggal dunia.
Saat itu, ia mendapat informasi awal bahwa putranya meninggal akibat kecelakaan.
Namun, tak lama berselang, Toni menerima informasi lain yang menyebut kematian tersebut diduga berkaitan dengan kekerasan oleh senior.
“Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB. Saya dihubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB,” kata Toni.
“Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan, tapi dianiaya senior,” sambungnya.
Sebelum dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, jenazah Serda Ahmad menjalani proses autopsi di Jakarta.
Toni mengatakan keluarga juga memperoleh informasi mengenai adanya luka pada tubuh putranya, di antaranya pada bagian wajah dan dada.
Namun, seluruh informasi tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan dan penyelidikan resmi.
“Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya,” jelas Toni.
Bagi keluarga, rangkaian informasi yang berbeda mengenai penyebab kematian tersebut menjadi alasan untuk meminta kasus diusut secara menyeluruh.
Toni meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), serta pihak terkait memastikan proses hukum berjalan secara adil dan transparan.
Ia berharap apabila hasil penyelidikan nantinya membuktikan adanya tindak kekerasan, pihak yang bertanggung jawab mendapatkan sanksi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Mohon kepada Pak Presiden (Prabowo), Pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” ujar Toni.
“Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional,” sambungnya.
Toni juga berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi dan tidak ada lagi prajurit yang kehilangan nyawa dalam situasi yang seharusnya menjadi bagian dari proses pengabdian.
“Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit, anak tidak berdosa,” katanya.
Pertemuan Terakhir dengan Sang Anak
Di tengah duka yang belum reda, Toni masih mengingat jelas pertemuan terakhirnya dengan Serda Ahmad.
Selasa (8/9/2026), atau dua hari sebelum putranya meninggal, Toni sedang menjalankan tugas kedinasan di Jakarta dengan mendampingi Bupati Madiun H Hari Wuryanto.
Kesempatan itu kemudian mempertemukannya dengan Serda Ahmad. Mereka sempat bertemu dan mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto.
Saat itu, tak ada firasat bahwa pertemuan tersebut akan menjadi kenangan terakhir seorang ayah bersama putranya.
“Pertemuan terakhir saya saat ada tugas dinas luar kota saya ke Jakarta kemarin lusa. Kemarin hari Selasa saya ketemu saat saya mendampingi Pak Bupati Madiun, kebetulan ada acara di Jakarta,” ungkap Toni.
“Tidak mengira pertemuan terakhir,” ucapnya lirih sambil menahan air mata.
Jenazah Serda Ahmad tiba di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan ambulans TNI AU.
Setelah disalatkan, jenazah kemudian dimakamkan. Prosesi pemakaman dihadiri keluarga, Bupati Madiun H Hari Wuryanto, jajaran ASN Pemkab Madiun, serta personel TNI AU dari Lanud Iswahjudi Magetan.
TNI AU Pastikan Proses Penyelidikan Berjalan
Sementara itu, Mabes TNI AU memastikan dugaan kekerasan terhadap Serda Ahmad tengah ditangani Pomau.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan Pomau telah meminta keterangan sejumlah pihak dan mengumpulkan bukti yang diperlukan untuk mengungkap kejadian tersebut.
“TNI Angkatan Udara menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang personel TNI AU, Serda AMF. Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan yang dialaminya,” ujar Nyoman, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, pemeriksaan terhadap sejumlah personel masih berlangsung. Karena itu, kronologi kejadian, peran masing-masing pihak, serta penyebab pasti kematian Serda Ahmad masih menunggu hasil penyelidikan.
“Pomau telah meminta keterangan dari sejumlah pihak serta mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti yang diperlukan guna pemeriksaan terhadap sejumlah personel masih berlangsung,” katanya.
TNI AU menegaskan proses penanganan perkara dilakukan secara profesional dan objektif sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“TNI AU memastikan penanganan perkara dilakukan secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Nyoman.
Ia menambahkan, proses tersebut dilakukan untuk mengungkap secara utuh kronologi serta fakta-fakta yang berkaitan dengan kematian Serda Ahmad.
“Untuk mengungkap secara utuh kronologi serta fakta-fakta yang berkaitan dengan kejadian tersebut,” tandasnya. (Frm)












