PASURUAN, BacainD.com – Menyikapi adanya Peraturan Pemerintah yang melarang pihak sekolah menjual seragam kepada para peserta didik, SDN Randusari Kota Pasuruan menghadirkan sebuah solusi kreatif. Sekolah tersebut meluncurkan program inovasi bertajuk “Sarisatik” (Satu Murid Satu Baju Batik), sebuah kegiatan membatik mandiri yang hasilnya akan digunakan langsung sebagai seragam harian para siswa.

Kepala Sekolah SD Negeri Randusari Yuli Winanti menyampaikan bahwa, program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan seragam siswa kelas 1 secara mandiri tanpa melanggar regulasi yang berlaku.

“Salah satu inovasi SDN Randusari yang namanya Sarisatik, Satu Murid Satu Baju Batik karya mereka sendiri,” ucap Yuli kepada awakmedia Sabtu (8/8/2026).

Untuk memastikan kualitas dan pemahaman teknik membatik Yuli menjelaskan, pihak sekolah mendatangkan tenaga ahli dari luar daerah. Sedangan para wali murid, tinggal mewarnai yang telah di batik oleh ahlinya.

“Untuk membatiknya mendatangkan dari pelatih Manggur dari Probolinggo, para orang tua dan siswa tinggal mewarnainya ditiap kain,” jelasnya.

Yuli mengungkapkan bahwa, seragam batik buatan sendiri ini nantinya akan melengkapi pakaian seragam mingguan siswa-siswi kelas 1.

“Batik nya digunakan untuk anak kelas 1 sendiri. Jadi kalau Senin-Selasa kan ada baju merah putih, Jumat-Sabtu baju Pramuka. Nah, untuk Rabu-Kamis ini digunakan anak-anak untuk baju mereka. Jadi nanti lengan panjang, di bawah ada sakunya, ada saku kanan-kiri,” ungkapnya.

Desain kain batik dalam program Sarisatik ini memiliki keunikan tersendiri karena memadukan unsur identitas lokal Kelurahan Randusari dan ciri khas Kota Pasuruan.

“Ciri khasnya di sini karena kita di Randusari, saya sudah bertanya kepada para tokoh masyarakat, dulu di sini banyak pohon randu nya. Maka motif batik yang kami gunakan adalah, gabungan dari daun randu dan bunga randu. Kami juga gabungkan dengan daun sirih yang ciri khasnya Kota Pasuruan,” tuturnya.

Kegiatan ini turut melibatkan peran aktif dari para orang tua atau wali murid. Meski sempat menemui kesulitan karena baru pertama kali mempraktikkan seni membatik, para orang tua menyambut antusias pembuatan seragam batik khas Randusari ini.

“Ini rencananya untuk seragamnya kelas 1A dan 1B. Jadi membuat karya batik sendiri, terus menjahit, lalu dipakai untuk seragam kelas 1,” kata salah satu wali murid yang ikut Feny Nur Widiastuti.

Ia juga menambahkan pengalaman pertamanya dalam membatik. Bahkan, ia mengaku pertama kali dalam mengikuti membatik

“Ya lumayan sulit soalnya belum pernah membatik sama sekali. Baru pertama kali membatik,” tambahnya.

Melalui program Sarisatik, SDN Randusari Kota Pasuruan, tidak hanya berhasil menyiasati aturan larangan penjualan seragam, tetapi juga sekaligus menanamkan rasa bangga pada kearifan lokal serta mempererat kolaborasi antara sekolah, siswa, dan orang tua. (BM)

Ikuti Channel WhatsApp Bacaind
Bagikan:

M. Bahrul Ulum

M. Bahrul Ulum adalah seorang wartawan BacainD.com - M. Bahrul Ulum merupakan Kepala Perwakilan Wilayah (Kaperwil) resmi yang bertugas di BacainD.com untuk wilayah Jawa Timur.