FOTO: Salah satu korban saat BAP di Polresta Tangerang. (Ss. Video liputan)
TANGERANG, BacainD.com – Kisah pilu yang dialami dua kakak beradik di Kabupaten Tangerang akhirnya berujung pada laporan polisi. Setelah bertahun-tahun memendam trauma, keduanya melaporkan dugaan pemerkosaan yang diduga dilakukan ayah sambung mereka ke Polresta Tangerang pada Selasa (22/7/2026).
Dari pengakuan korban melalui kuasa hukumnya, Zaenal Abidin menyebutkan, bahwa kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan oleh ayah sambung (Tiri) korban berinisial SS (17), dimulai sejak dirinya duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD).
Menurutnya, dugaan perbuatan tersebut terjadi berulang kali hingga akhirnya berhenti ketika korban melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren.
“Gadis yang masih kecil seperti itu, (diduga) dilecehkan oleh bapak sambungnya, sejak masih SD, bahkan kejadian itu berulang-ulang hingga berhenti karena korban ini masuk ke pondok pesantren,” ungkapnya kepada BacainD.com, Selasa (22/7/2026).
Zaenal menuturkan, ada satu peristiwa yang sangat membekas dalam ingatan korban. Saat korban mengalami menstruasi, ia mengaku diduga tetap dipaksa oleh ayah tirinya untuk melakukan hubungan layaknya suami istri.
Pengakuan itu menjadi salah satu bagian yang dinilai paling memilukan dalam rangkaian dugaan kekerasan yang dialami korban.
Selain itu, menurut Zaenal, kedua korban juga hidup dalam ketakutan selama bertahun-tahun. Mereka mengaku tidak berani melawan karena terduga pelaku kerap mengancam dengan hal-hal yang dikaitkan dengan praktik mistis.
“Anak-anak ini ketakutannya, menurut mereka (korban), pelaku ini suka apa.., bermain dukun dan mengancam akan dilakukan hal-hal mistis,” papar Zaenal.
Zaenal menjelaskan, momen yang menjadi titik balik keberanian kedua kakak beradik mengungkap seluruh dugaan kekerasan itu terjadi pada awal 2025, saat berlangsungnya acara pernikahan sang kakak.
Sebelum acara digelar, kedua korban telah meminta kepada keluarga, termasuk ibu kandung mereka, agar ayah sambung tidak diizinkan menghadiri pernikahan tersebut.
Namun, ayah sambung korban tetap hadir dalam acara itu. Kehadirannya membuat kedua kakak beradik histeris.
Selama ini, kata Zaenal, sang kakak selalu berusaha menghindari terduga pelaku, bahkan beberapa kali memilih keluar dari rumah demi menghindari dugaan perbuatan yang dialaminya.
Dari peristiwa di acara pernikahan itulah, kedua korban akhirnya saling menceritakan seluruh dugaan kekerasan seksual yang mereka alami.
Zaenal mengatakan, hingga kini kondisi kedua korban masih sangat memprihatinkan. Trauma yang dialami disebut sangat mendalam dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Bahkan, korban masih merasa ketakutan ketika melihat orang yang tidak dikenal. Di sisi lain, terduga pelaku disebut masih berada di luar sehingga keluarga berharap kepolisian segera mengambil tindakan.
“Kondisi korban saat ini sangat trauma ya sangat terganggu sekali ketika melihat orang asing yang tak dikenal, dan sekarang ayah sambungnya masih berkeliaran diluaran sana saya berharap kepolisian cepat dan segera menangkapnya agar tidak ada korban-korban selanjutnya,” tutupnya.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, dua korban berinisial AS (23) dan adiknya, SS (17), didampingi kuasa hukumnya, Zainal Abidin, melaporkan dugaan tindak pidana pelecehan ke Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang (Dittipid PPA-PPO) Bareskrim Polri.
Laporan itu diterima dengan nomor B/552/V/RES.1.24./2026/Dittipid PPA dan PPO pada 7 Mei 2026. Selanjutnya, perkara tersebut dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tangerang pada 21 Juli 2026 untuk proses penanganan lebih lanjut. (Frm)
Diduga Dilecehkan Ayah Sambung Sejak Umur 7 Tahun, Dua Kakak Beradik di Pasar Kemis Tangerang Lapor Polisi TANGERANG, BacainD.com – Dugaan kekerasan seksual yang menimpa dua kakak beradik asal Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, menyita perhatian publik. Peristiwa yang diduga berlangsung selama bertahun-tahun itu disebut meninggalkan trauma mendalam bagi kedua korban hingga akhirnya memilih mencari keadilan melalui jalur hukum. Dua korban berinisial AS (23) dan adiknya, SS (17), didampingi kuasa hukumnya, Zainal Abidin, melaporkan dugaan tindak pidana tersebut ke Direktorat Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang (Dittipid PPA-PPO) Bareskrim Polri. Laporan itu diterima dengan nomor B/552/V/RES.1.24./2026/Dittipid PPA dan PPO pada 7 Mei 2026. Selanjutnya, perkara tersebut dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tangerang pada 21 Juli 2026 untuk proses penanganan lebih lanjut. Kuasa hukum korban, Zainal Abidin, mengatakan kedua kliennya yang merupakan anak tiri diduga menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah sambung mereka berinisial N. Menurut Zainal, dugaan peristiwa itu bermula saat salah satu korban masih berusia sekitar tujuh tahun atau ketika duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Dugaan kekerasan seksual tersebut, kata dia, terus berulang hingga korban menamatkan sekolah dasar. Sementara kakaknya, SA, juga mengaku mengalami perlakuan serupa saat masih bersekolah. “Klien kami mengaku dugaan persetubuhan itu terjadi berulang kali, bahkan hampir setiap hari. Korban tidak mampu melawan karena pelaku memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar. Meski korban menolak, dugaan kekerasan itu tetap terjadi dengan unsur pemaksaan,” ujar Zainal. Selain dugaan persetubuhan, Zainal mengungkapkan kliennya juga mengalami dugaan perbuatan cabul. Salah satu korban SS mengaku pernah diajak bersepeda oleh terlapor sebelum dibawa ke lokasi yang sepi dan diduga dipaksa melakukan perbuatan yang melanggar kesusilaan. Bahkan, kata dia, SS mengaku dugaan kekerasan seksual tersebut tetap terjadi ketika dirinya sedang mengalami menstruasi. “Korban mengaku sudah berulang kali menolak dan memohon agar perbuatan itu dihentikan karena sedang menstruasi. Namun, menurut pengakuannya kepada kami, terlapor tetap memaksa melakukan dugaan persetubuhan disertai kekerasan sehingga korban tidak mampu melakukan perlawanan,” ujar Zainal. Atas laporan tersebut, kuasa hukum mempersangkakan terlapor melanggar Pasal 81 ayat (1) dan Pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016, Pasal 76E Undang-Undang Perlindungan Anak, serta sejumlah ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Selain itu, laporan juga mengacu pada ketentuan dalam KUHP Nasional dan Pasal 184 KUHAP mengenai alat bukti yang sah dalam perkara pidana. Zainal menjelaskan, ketentuan tersebut mengatur ancaman pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun disertai denda hingga Rp5 miliar. Dalam kondisi tertentu, ancaman pidana dapat diperberat apabila tindak pidana dilakukan secara berulang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Ia berharap kepolisian segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan penangkapan terhadap terlapor agar tidak ada korban lain. “Hingga saat ini terlapor masih bebas berkeliaran. Kami berharap aparat penegak hukum segera mengambil tindakan agar tidak muncul korban-korban berikutnya,” kata Zainal. #breakingnews#polrestangerangkota#pasarkemis#beritatiktok#fyp
Firmansyah merupakan seorang wartawan resmi di media online BacainD.com untuk wilayah Bekasi Raya. - Firmansyah menjabat sebagai Kepala Biro (KA-Biro) Bekasi Raya yang aktif mengulas berita terkini dengan gaya penulisan yang lugas dan informatif. Fokus pada kecepatan, akurasi, dan relevansi dalam setiap karya jurnalistik yang dipublikasikan.