BEKASI, BacainD.com – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bekasi dalam beberapa waktu terakhir kembali membawa persoalan lama. Genangan banjir tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas pendidikan.
Salah satunya dialami SMKN 1 Tambun Selatan yang berlokasi di Desa Setia Mekar. Sekolah kejuruan negeri tersebut kembali terendam banjir setelah hujan dengan intensitas tinggi turun sejak pagi hari.
Akibatnya, kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan dan para siswa dipulangkan lebih awal. Kondisi ini bukanlah kejadian baru. Banjir telah menjadi “langganan” sekolah tersebut selama bertahun-tahun, bahkan hampir setiap kali hujan turun lebih dari satu jam.
Pantauan Bacaind.com di lokasi menunjukkan air menggenangi area luar hingga ruang kelas dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa pada Kamis (22/01/2026) kemarin. Wakil Kepala SMKN 1 Tambun Selatan Bidang Sarana dan Prasarana, Deska Agus, membenarkan kondisi tersebut.
Ia mengatakan, hujan deras yang turun sejak pagi menyebabkan genangan air terus bertambah hingga tak memungkinkan proses belajar mengajar berlangsung.
“Sejak pagi hujan terus turun dengan intensitas deras. Kondisi tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa kami pulangkan sekitar pukul 10.00 WIB,” ucap Deska Agus, Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana, saat ditemui di lokasi, Minggu (25/1/2026) .
Menurutnya, banjir di sekolah dipicu oleh sistem drainase yang tidak memadai. SMKN 1 Tambun Selatan berada di tengah kawasan permukiman, dengan aliran air dari sedikitnya tiga perumahan di sekeliling sekolah bermuara ke area lingkungan sekolah.
“Air dari saluran warga masuk ke sekolah karena ujung saluran pembuangannya sangat kecil, hanya sekitar 40 sentimeter. Akhirnya air seperti ‘mengantre’ dan meluap ke lingkungan sekolah,” jelasnya.
Deska menambahkan, sejak 2017 sekolah tersebut telah berulang kali dilanda banjir. Bahkan dalam sepekan terakhir, banjir tercatat terjadi dua kali.
Terdapat sekitar delapan titik aliran air dari luar yang masuk ke kawasan sekolah dan bergabung dalam satu saluran yang sempit di bagian hilir.
Upaya penanganan sebenarnya telah dibahas bersama. Pada Senin (19/1/2026), pihak sekolah menggelar pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Pendidikan, DPRD Kabupaten Bekasi, Pemerintah Desa, hingga unsur RT dan RW. Pertemuan tersebut membahas rencana kolaborasi penanganan banjir agar tidak terus berulang.
“Hasil diskusi, pemerintah desa diminta memperbaiki saluran air di lingkungan warga, pihak sekolah fokus pada kebersihan, dan pemerintah daerah diharapkan membenahi akses jalan di depan sekolah yang juga kerap tergenang,” ujar Deska.
Namun hingga kini, solusi yang diterapkan masih bersifat sementara. Menurut Deska, belum ada langkah konkret seperti pelebaran saluran atau pengalihan aliran air.
Upaya yang dilakukan masih sebatas kerja bakti dan pembersihan lingkungan. Meski demikian, ia mengapresiasi semangat para siswa yang tetap membantu membersihkan sekolah setiap kali banjir surut.
“Anak-anak sering bertanya kenapa sekolahnya banjir terus. Saya hanya bisa menjelaskan kondisi yang ada. Alhamdulillah, mereka tetap semangat bergotong royong,” tuturnya.
Banjir yang terus berulang di SMKN 1 Tambun Selatan menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah daerah. Tanpa penanganan menyeluruh, aktivitas belajar ribuan siswa terancam terus terganggu setiap kali hujan deras turun. (Frm)






