PASURUAN, BacainD.com – Seorang nelayan pencari kerang asal Kelurahan Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, dilaporkan meninggal dunia setelah tersambar petir di pesisir perairan Ngemplakrejo, Kota Pasuruan. Peristiwa tragis ini terjadi saat wilayah setempat diguyur hujan deras disertai cuaca ekstrem.
Mendapat laporan tersebut, jajaran Satpolairud Polres Pasuruan Kota langsung bergerak cepat mendatangi rumah duka untuk melakukan takziah sekaligus menghimpun keterangan dari pihak keluarga korban.
Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota Aiptu Junaedi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, korban diketahui bernama Sulicha, seorang perempuan berusia 65 tahun warga Jalan Jendral S Parman Gang 2, Kelurahan Mandaranrejo. Peristiwa naas itu terjadi pada Selasa malam, 19 Mei 2026, sekitar pukul 22.00 WIB.
“Kami menerima laporan dari masyarakat pada Rabu pagi mengenai adanya nelayan yang meninggal dunia akibat tersambar petir saat beraktivitas di laut. Anggota Satpolairud Polres Pasuruan Kota, termasuk Kanit Patroli dan piket fungsi bersama ABK KP X 1003 Bko Ditpolairud Polda Jatim langsung diterjunkan untuk mendatangi rumah duka,” kata Junaedi, Rabu (20/05/2026).
Junaedi menjelaskan bahwa, kronologi kejadian, peristiwa bermula pada Selasa sore sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, korban bersama saksi bernama Kadir dan tujuh orang lainnya berangkat menuju tepi perairan Ngemplakrejo untuk mencari kerang.
Namun menjelang malam, cuaca di kawasan pesisir memburuk secara drastis. Sekitar pukul 22.00 WIB, hujan deras bercampur petir melanda lokasi, sehingga saksi dan korban memutuskan untuk segera kembali dan naik ke perahu. Di saat itulah, korban seketika tersambar petir dan langsung terjatuh.
“Kondisi saat kejadian sangat gelap dan hujan lebat. Saksi sempat mencari korban dan menemukannya dalam posisi terjatuh serta tertutup lumpur dan air. Korban kemudian langsung dievakuasi dan dibawa oleh pihak keluarga menuju rumah duka,”jelasnya.
Pihak kepolisian menyebutkan, bahwa keluarga korban telah menerima kejadian ini sebagai musibah murni. Pihak keluarga menyatakan keikhlasannya, menolak untuk dilakukan visum maupun otopsi di rumah sakit, dan memilih untuk langsung memakamkan jenazah. Komitmen tersebut juga diperkuat dengan surat pernyataan resmi yang ditandatangani oleh keluarga korban.
“Korban sudah makamkan tadi pagi di tempat pemakaman umum,” sebutnya.
Aiptu Junaedi juga memberikan imbauan kepada masyarakat, khususnya para nelayan yang sering beraktivitas di laut, untuk lebih meningkatkan kewaspadaan. Mengingat wilayah perairan Pasuruan Raya merupakan salah satu kawasan yang rawan terjadi badai petir, terutama saat musim penghujan seperti sekarang ini.
“Kami mengimbau kepada seluruh nelayan agar selalu memantau perkembangan cuaca sebelum melaut. Jika kondisi cuaca di tengah laut atau pesisir mulai memburuk, hujan deras, dan banyak petir, sebaiknya segera menepi mencari tempat yang aman demi keselamatan bersama,” pungkasnya. (BM)






