BEKASI, BacainD.com – Ancaman kekeringan meteorologis mulai menjadi perhatian serius di wilayah Bekasi. Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi tercatat masuk kategori Awas atau zona merah dalam peringatan dini kekeringan meteorologis yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah terdampak berada jauh di bawah kondisi normal dalam periode tertentu.
BMKG memperkirakan kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Barat masih berpotensi berlangsung hingga 10 September 2026.
“Kekeringan meteorologis ini terjadi ketika curah hujan berada jauh di bawah kondisi normal dalam periode tertentu,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).
Menurut Ardhasena, pemantauan kekeringan tidak berhenti pada periode peringatan yang sedang berlangsung.
Setelah periode tersebut berakhir, BMKG akan melakukan evaluasi untuk melihat dan memetakan potensi kekeringan pada 10 hari berikutnya.
Situasi ini menjadi perhatian karena sebelumnya, dalam peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026, BMKG mencatat potensi kekeringan di sejumlah wilayah dapat berlangsung lebih dari 60 hari.
Bekasi Bersama 17 Wilayah Jawa Barat Berstatus Awas
Kabupaten dan Kota Bekasi bukan satu-satunya wilayah yang menghadapi kondisi tersebut. BMKG mencatat terdapat sejumlah daerah di Jawa Barat yang masuk kategori Awas dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Garut, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kota Banjar, Kota Bekasi, Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Sumedang, dan Kabupaten Ciamis yang berada dalam kategori Sedang, Siaga, hingga Awas.
BMKG mengingatkan kondisi kekeringan meteorologis berpotensi memberikan dampak langsung terhadap ketersediaan air bersih maupun sektor pertanian.
Masyarakat di wilayah yang terdampak diminta mengantisipasi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air bersih. Sektor pertanian juga perlu mewaspadai dampak yang dapat muncul akibat berlangsungnya periode kering.
Tak hanya persoalan air, kondisi kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama periode musim kemarau berlangsung.
Seluruh Jawa Barat Sudah Masuk Musim Kemarau
Kekeringan yang terjadi saat ini berlangsung ketika seluruh wilayah Jawa Barat telah memasuki musim kemarau. Berdasarkan data BMKG, musim kemarau mulai terjadi di seluruh wilayah Jawa Barat sejak Dasarian I Juli 2026.
Kondisi iklim global turut menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian BMKG. Saat ini, kondisi iklim masih dipengaruhi fenomena El Nino.
Berdasarkan pemantauan pada Dasarian I Agustus 2026, BMKG mencatat indeks ENSO berada di angka +2,77 dengan anomali +2,19. Sementara itu, anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 pada periode Juni-Juli-Agustus 2026 tercatat mencapai +2,18.
“BMKG memprediksi El Nino 2026 masih akan bertahan hingga awal 2027,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan untuk terus memperbarui informasi mengenai kondisi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG.
Kesiapsiagaan juga perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin muncul selama periode kekeringan, terutama menyangkut ketersediaan air, pertanian, serta potensi kebakaran hutan dan lahan. (Ths)






