Bekasi, BacainD.com – Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Bantargebang menggelar diskusi kajian publik bertema “Refleksi TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu Menuju Kedaulatan Lingkungan” pada Minggu (12/4/2026), di Mahayun Resto Bantargebang.
Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara masyarakat, pemangku kebijakan, dan akademisi dalam membahas persoalan lingkungan yang selama ini menjadi perhatian utama warga Bantargebang, khususnya terkait keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketua PAC GP Ansor Bantargebang, Egi Cahyanto.Amd.Kep., dalam sambutannya berharap hasil kajian tersebut tidak berhenti pada diskusi semata, tetapi dapat direalisasikan oleh para pemangku jabatan. Ia juga mengajak kader Ansor untuk mengambil peran nyata dalam mengurangi persoalan sampah dari tingkat rumah tangga.
“Semoga kajian ini bisa direalisasikan oleh pemangku kebijakan. Khususnya sahabat-sahabat Ansor bisa membantu mengurangi sampah dengan memilah dari rumah,” ujar Egi.
Acara ini turut dihadiri oleh Anggota DPRD Kota Bekasi Komisi IV Wildan Fatturohman, perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bekasi Raya, aktivis lingkungan, Lurah Bantargebang, Lurah Ciketing Udik, LPM se-Kecamatan Bantargebang, Babinsa, Bimaspol, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam sesi diskusi, hadir sebagai narasumber Drs. Azhar Firdaus dan Nur Ihsan Ayyasy, M.Si dari Pusat Penelitian SDM dan Lingkungan Universitas Indonesia. Para pembicara menyoroti dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh keberadaan TPST dan TPA di wilayah Bantargebang.
Menurut mereka, tumpukan sampah dalam skala besar berpotensi menghasilkan zat kimia berbahaya yang dapat mencemari tanah dan udara. Kondisi ini berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
“Banyak kandungan kimiawi dalam tumpukan sampah yang menggunung. Ada yang mencemari tanah dan ada pula yang menyebar melalui udara, yang berpotensi menyebabkan penyakit bagi masyarakat,” ungkap salah satu narasumber.
Diskusi ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai elemen untuk mewujudkan kedaulatan lingkungan yang berkelanjutan.
Sebagai penutup, masyarakat diimbau untuk mulai menerapkan pengelolaan sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga. Pemilahan sampah organik dan anorganik menjadi langkah awal yang sederhana namun berdampak besar.
Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik dapat didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah. Selain itu, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai juga menjadi langkah penting dalam menekan volume sampah.
Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan dampak serius seperti pencemaran air tanah, polusi udara akibat gas metana, hingga meningkatnya risiko penyakit.
Oleh karena itu, kesadaran kolektif dan aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
(Suryono ST)






