PASURUAN, BacainD.com – Menteri Sosial Saifullah Yusuf menginstruksikan seluruh rumah sakit agar tetap melayani pasien Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang status kepesertaannya dinonaktifkan, terutama bagi pengidap penyakit kronis.Hal itu ditegaskan pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut saat melakukan sosialisasi Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) di Gedung Diponegoro, Bangil, Pasuruan, pada Sabtu (07/02/2026).
Gus Ipul menekankan, agar fasilitas kesehatan tidak menghentikan layanan medis hanya karena persoalan administratif.
“Untuk seluruh rumah Sakit, tetap melayani pasien-pasien yang dari BPJS Kesehatan atau yang ikut program PBI. Kita minta tetap dilayani, terutama yang memiliki penyakit-penyakit yang kronis ya, yang memerlukan penanganan tepat,” ucap Gus Ipul di hadapan para camat, kepala desa, dan pilar-pilar sosial se-Kabupaten Pasuruan.
Ia menjelaskan bahwa, setiap bulan pemerintah melakukan pemutakhiran data bersama bupati dan wali kota, sehingga kepesertaan bantuan bersifat dinamis. Meski demikian, bagi warga yang benar-benar membutuhkan, pemerintah menjamin adanya mekanisme reaktivasi.
“Bagi yang memang benar-benar membutuhkan, kemudian memiliki penyakit kronis, itu bisa direaktivasi. Itu sudah kita sampaikan dan ini menjadi kesepakatan bersama Kementerian Kesehatan dengan BPJS Kesehatan,” jelasnya.
Berdasarkan evaluasi tahun lalu, pemerintah telah mengalihkan lebih dari 10 juta penerima manfaat, di mana sekitar 87.000 di antaranya melakukan reaktivasi kembali. Gus Ipul meminta rumah sakit proaktif dan tidak menolak pasien saat proses verifikasi data ini berlangsung.
“Saya minta kepada rumah sakit untuk tidak menolak, ya. Untuk tetap memberikan layanan dengan baik kepada pasien-pasien yang kebetulan mungkin kepesertaannya itu dinonaktifkan. Tetap bisa dilayani karena kita juga akan proses lebih lanjut selama memenuhi syarat,” tuturnya.
Gus Ipul menambahkan, bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan Direktur BPJS Kesehatan untuk menciptakan mekanisme yang lebih cepat bagi rumah sakit. Fokus utama saat ini adalah pasien yang membutuhkan penanganan rutin seperti cuci darah agar mereka tetap mendapatkan akses pengobatan.
“Jangan sampai rumah sakit tidak melayani pasien. Mereka harus mendapatkan layanan yang terbaik, jangan sampai kehilangan harapan,” pungkasnya. (BM)






