PASURUAN, BacainD.com – Hujan es batu yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan pada Sabtu (31/01/2026) kemarin, membuat warga terkejut. Fenomena cuaca ekstrem tersebut terjadi bersamaan dengan hujan deras dan angin kencang, terutama pada siang hingga sore hari.
Ketua Tim Layanan Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto megatakan, bahwa hujan es merupakan fenomena alam yang umum terjadi pada masa peralihan musim atau pancaroba.
“Hujan es disebabkan oleh pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang menjulang tinggi, didukung oleh kondisi atmosfer yang labil, kelembapan udara tinggi, serta arus udara naik atau updraft yang kuat sehingga butiran air membeku menjadi es,” ucap Suwarto, Minggu (01/02/2026).
Menurutnya, awan Cumulonimbus menjadi faktor utama terjadinya hujan es. Awan jenis ini memiliki puncak dengan suhu sangat dingin, bahkan bisa mencapai minus 77,5 derajat Celsius, sehingga memungkinkan tetesan air di dalamnya membeku.
“Di dalam awan Cb terdapat arus udara naik dan turun yang sangat kuat. Butiran es kecil akan terdorong naik turun berkali-kali hingga ukurannya membesar dan akhirnya jatuh ke permukaan bumi bersama hujan deras,” ujarnya..
Selain itu, kondisi atmosfer yang labil akibat perbedaan suhu yang signifikan antara permukaan bumi dan lapisan udara atas juga mempercepat pembentukan awan konvektif. Pemanasan intens pada pagi hingga siang hari turut meningkatkan penguapan dan kelembapan udara yang memperkuat pertumbuhan awan Cb.
Suwarto menambahkan, fenomena hujan es paling sering terjadi pada masa pancaroba karena kondisi cuaca yang cenderung tidak stabil.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan es yang biasanya disertai kilat atau petir, angin kencang, dan umumnya berlangsung singkat sekitar 5 hingga 10 menit,” tambahnya.
Terkait kemungkinan hujan es susulan, Suwarto menyebutkan bahwa fenomena tersebut tidak dapat diprediksi secara pasti.
“Untuk susulan hujan es, tidak bisa diprediksikan. Selama musim hujan dan masa pancaroba, potensi hujan es tetap ada,” pungkasnya. (BM)





