MAGELANG, BacainD.com – Rencana gelaran konser penyanyi legendaris Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026 mendatang membuka ruang perbincangan hangat mengenai titik temu antara musik dunia dan kekayaan warisan budaya Nusantara.
Momentum ini dinilai sangat strategis untuk memperluas apresiasi terhadap seni sekaligus mempererat hubungan kebudayaan antarbangsa dalam bingkai keberagaman tradisi.
Tokoh Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KPAA Panembahan Karyonagoro, menyoroti pentingnya memanfaatkan pertunjukan berskala internasional ini sebagai wahana diplomasi kebudayaan yang saling memperkaya.
“Musik klasik yang diusung Andrea Bocelli dan tradisi seni Indonesia memang tumbuh dari latar sejarah serta ekspresi estetika yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama memperlihatkan bagaimana seni menjadi bagian penting dari perjalanan peradaban manusia,” ujar KPAA Panembahan Karyonagoro.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan seni yang sangat adiluhung, seperti karawitan, gamelan, tembang, hingga seni pertunjukan keraton yang sarat akan nilai filosofi dan kearifan lokal. Dalam perspektif kebudayaan keraton, seni tidak sekadar berfokus pada keindahan visual maupun auditori, melainkan juga menyentuh kehalusan rasa, keselarasan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur.
“Pertemuan seni dari berbagai tradisi dunia dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan belajar, tanpa harus menghilangkan karakter maupun identitas kebudayaan masing-masing,” jelasnya.
Di sisi lain, pemilihan Candi Borobudur sebagai lokasi pertunjukan turut menghadirkan perhatian khusus terkait pelestarian warisan sejarah. Sebagai situs warisan dunia UNESCO, Borobudur memiliki nilai arkeologis, historis, dan spiritual tinggi yang wajib dijaga keberlangsungannya.
KPAA Panembahan Karyonagoro mengingatkan bahwa setiap agenda internasional di kawasan tersebut harus tetap mengedepankan aspek perlindungan situs, penghormatan nilai budaya, serta mengakomodasi kepentingan masyarakat setempat.
“Momentum ini harus mampu mendorong pengembangan diplomasi kebudayaan melalui kolaborasi seniman, pertukaran pengetahuan, dan promosi seni tradisional Indonesia ke panggung internasional. Kehadiran pertunjukan kelas dunia adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan budaya lokal secara lebih luas, selama tetap memberi ruang yang memadai bagi pelestarian warisan budaya kita,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dialog kebudayaan bukanlah upaya untuk menyamakan seluruh tradisi, melainkan sarana untuk membangun rasa saling menghormati di tengah perbedaan yang ada.
“Musik dapat menjadi jembatan yang mempertemukan masyarakat dunia, sementara warisan budaya memberikan pijakan historis bagi identitas bangsa. Perpaduan keduanya membuka peluang besar untuk memperkuat persahabatan antarbangsa sekaligus meningkatkan kepedulian kita dalam menjaga kekayaan peradaban bagi generasi mendatang,” pungkasnya. (BM)






